Sabtu, 29 Agustus 2015

CERBUNG (part1)

Judul : Nada Cinta Ghunnah; Meredam Perasaan.


Karya :
Erlangga Dias ( Pinokio Ushang)
Hifdiel Maasi (Aang Irawan)
Assahilah Nurul Mukarromah
Puput Biseru (Putri Yulia Permen Kapas)



Suasana malam sebuah pondok pesantren Darul Mutaallimiin sangat menenangkan sanubari, apalagi saat sedang mengaji akan terlihat santriyin dan santriyat yang sedang membalag kitab-kitabnya dengan khusyuk, ada yang nashrif, qira'atul Quran dan banyak bentuk ibadah lainnya yang tujuannya hanya satu yaitu mengharap keridhoan Allah Tuhan yang satu. Seorang santriyin sedang terpekur sendiri di serambi pondok (kobong kalau orang sunda menyebutnya) merenung seperti serius, padahal dia hanya merenungkan arti namanya sendiri.

“Aiih ..., kata Kang Ustad tadi setiap nama adalah doa, lalu arti nama ane apa ya? masa Abah sama Emak ngasih nama gak bermakna, ah apa ane telpon aja emak ya? sekalian nanyain kabar keluarga." batinnya bertanya.

Dasar wataknya sudah begitu, kalau suatu urusan belum jelas, ia akan mencari sampai terbuka kejelasannya.

  Beranjaklah ia ke kamar kobong yang luasnya hanya setengah dari kamar rumahnya, cuma cukup untuk dua orang, semua kamar di pondok sama seperti itu, 'biar masakat' kalau kata Abah sepuh. Teringat juga pas suatu hari ada santri baru yang mengeluh tentang kamarnya yang sempit dan Abah cuma bilang, 'Kita lihat, mana yang lebih sempit, kamarmu atau hatimu? kesempitan dunia timbul karena hati yang sempit Jang (Nak) maka belajarlah qona'ah, menerima dan mensyukuri atas pemberian-Nya' Sampai di kamar, ia langsung sibuk mencari handphonenya di lemari di rak kitab, semuanya dibuka-buka tapi barang yang dicari tak juga ditemukan.

"Aduh, mana Handphone ane ya, apa ane lupa?" tanyanya sendiri.

 "Nyari apa antum Ang?" tiba-tiba Pino teman sekamarnya datang baru selesai ngaji Quran.

 "Ane lagi cari handphone sob, ane lupa dimana naro nya,"

"Emm, Ini bukan?" tanya Pino tersenyum geli melihat Aang sudah keringetan nyariin handphonenya.

"Alhamdulillah ..., dari mana antum temuin sob?" Aang sumringan hpnya ditemukan.

"Heheh, kang Ustad yang nitipin. Makanya jangan bawa hp kalau ngaji, tertinggal deh di majlis, untung yang nemuin kang Ustad coba kalau yang nemu orang lain, ilang tuh hp antum," kata Pino mengingatkan.

"Aah, gak mungkin ilang kalau tertinggal di majlis, orang pada baek juga, BTW syukron nih sob."

"Afwaan, darimana antum tahu orang-orang pada baek hatinya, hati orang itu beda-beda sob, mungkin aja asalnya baik pas nemu kesempatan maksiat langsung sikat,"

"Bener juga, bisa jadi tempat yang baik orangnya jelek, atau sebaliknya tempat jelek kumuh orangnya baik,"

"Nah ntu tahu, ukuran baik buruk orang gak ditentuin tempat dhohir, tapi yang nentuin ini..., " kata Pino sambil memegang dada Aang

"Tempat bathin, dimana niat dan ikhlas bermula," sambung Pino tersenyum bijak.

"Widiih, mantep ni mama Pino, jleb banget kalamnya, heheh." Aang terkehkeh kagum

"Tapi jangan lama dong ngelus dadanya, emang ane santri apaan, hahah." Aang terkekeh geli melihat ekspresi jijik Pino.

"Idih, amiiit ..., siapa yang ngelus, elus aja noh pake kerak." Pino kesal karena mulut usil Aang

 "Kahkahkah udah mandi sono, mumpung belum isya, ane mau nelpon Emak dulu," suruh Aang mendorong tubuh Pino keluar kamar.

"Udahh ..., jangan dorong-dorong, entar dikira KDRT lagi, hahah." Pino tertawa berhasil membalas mulut usil Aang yang kini mencibir jijik.

Sementara di pondok santriyat terdengar keramaian yang tidak biasanya. Semua santriyat di barisan kamar Az-Zahriyah keluar dari kamarnya kecuali Anggie yang sedang sibuk menggarap tugas kuliahnya. Ternyata Ibu pengasuh pondok menuju ke kamar Fitri dengan membawa seseorang, sepertinya dia santriyat baru di pondok ini. Benar saja, Fitri disuruh Ibu pengasuh supaya dia membagi kamarnya dengan anak baru tersebut.

"Kenalkan, saya Fitri. Nama kamu siapa?" langsung saja Fitri memperkenalkan dirinya.

"Saya Frina Safa, panggil Safa saja," jawabnya dengan santun.

 "Yah udah ayo masuk Fa!" ajak Fitri.

"Eits tunggu Fit, saya ngikut kamu ke kamar yah? kan saya juga pengen kenalan," tiba-tiba seorang santriyat mengagetkan Fitri.

"Eh, kamu toh Assahilah. Ya udah ayo," sahut Fitri Mereka bertiga pun masuk kekamar Fitri dan Safa.

Dalam satu waktu di tempat yang berbeda, tepatnya di asrama santriyat. Malam yang khas pondok pesantren kini mulai begitu terasa untuk Safa. Meski angin yang berhembus pelan mulai menyeka wajah-wajah para pencari ilmu ini. Safa sedang merapikan barang-barang yang dibawanya maklum Safa adalah santriyat baru di pondok pesantren ini. Kebetulan Safa sekamar dengan Fitri.

"Ayo sini Fa duduk disini dulu, nanti aku bantu kamu beresin barang-barang kamu." Fitri menyilahkan Safa duduk didipannya.

"Oh iyah, aku belum kenalan sama kamu. Aku Assahilah, kamu siapa?"

"Dia Safa Sa,"

"Perasaan tadi aku tanyanya sama Safa, kenapa jadi kamu yg jawab Fit,"

"Biarin, wee."

"Malah ngeledek lagi,"

"Sudah-sudah! kenapa kalian jadi begini?" Safa menenangkan mereka berdua.

"Oh iyah Fa, kamu disini mau mondok aja atau disambi apa?" tanya Assahilah penasaran.

"Urgh …, ada apa sih ini ribut-ribut! aku ngga konsen nih jadinya," tiba-tiba Anggie datang dengan marah-marah karena merasa terganggu.

"Kamu dateng-dateng jangan marah-marah gitu dong Nggie, lihat nih ada santriyat baru," ucap Fitri sambil mendongakkan dagu kearah Safa.

"Oh ...,jadi ada santriyat baru toh?  hehe maaf deh kalau gitu," ucap Anggie cengar-cengir malu.

"Makanya jangan asal marah kalo belum tahu," sahut Assahilah.

"Oke dilanjut aja Fa pertanyaan yang tadi aku tanya," sambung Assahilah.

"Saya disini hanya ingin memperdalam agama saja, tidak dengan kegiatan di luar," jawab Safa

"Iyah bener Fa, daripada kayak saya nanti pusing," sela Anggie.

"Perasaan tadi ada yang marah-marah deh kita ngobrol, tapi siapa yah?" ejek Assahilah sambil ketawa-ketiwi.

"Yah udah sih ngga papa aku ikut nimbrung, biar tambah rame,” jawab Anggie. Mereka tertawa bersama ketika Anggie memberi jawaban yang begitu aneh bagi seorang Anggie.

            Malam kian larut, suara-suara jangkrik mulai terdengar nyaring dalam kamar para santriyin. Meski begitu, Aang masih bergelut dengan tombol-tombol hp miliknya.

Aang pun mulai membuka kunci hpnya, terdengar tombol- tombol berkrek krek saat mencari kontak Emaknya seperti ranting patah, maklum hpnya hp jadul. Setelah nama yang dicari ketemu dan bersiap men dial.

"Kepada Neng Frina Safa, diharap menghadap kerumah Abah Sepuh," Suara Kang ustad melalui pengeras suara memanggil nama santriyat.

"Frina Safa..., " gumam Aang membatalkan niat memanggil Emaknya.

Jumat, 28 Agustus 2015

ini curhat kali yahh...


Terserah pikiranku mau bilang apa ?
yang aku tahu hati ku tak sejalan
dengan pikiran ku saat ini;
Pikiranku melawan hati ku membantah
Setiap rasa yang di utarakan oleh hatiku

Aku tak tahu mengapa pikiran ku
Seakan memberontak untuk hal itu;
Entahlah..
Mungkin?

haaaahhhhhhhhhhhhhhhh
segala kemungkinan bisa saj terjadi begitu saja
tanpa aku tahu apa?
parepare,kamarkumuhku
permenkapasdilangit

7:56 AM 6/1/2015

KISAH SI TULI

OLEH : PUTRI YULIA ANGRENY

Aku menikmati dunia  dengan
Kesunyian
Aku mendengar
tangisanmu meski kau
Tak bersuara
Aku menikmati
kisahmu meski kau
Tak bercerita
Aku menikmati lantunan
lagumu meski kau tak bernyanyi

Aku menikmati duniaku
Meski dalam kesunyian
Yang semua orang tak bisa
Menikmati walaupun mereka
Mampu menikmati lebih daripada yang aku nikmati.
Aku menikmati hidupku meski
Sang pencipta tidak menghidangkannya
langsung untukku..

Karena aku mendengar kesunyianku sendiri.


RAPPANG, 31 JULI 2015

Rabu, 26 Agustus 2015

Merdeka?
Karya  : Putri Yulia Angreny
Iya…merdeka
Itu dulu
Ketika tak ada para koruptor
Ketika tak ada para perampokKetika tak ada para pencopetKetika tak ada Si penyongokTak ada Si pemerasIya…merdeka?
Itu dulu
Ketika Rakyat benar-benar merdeka
Ketika taka da kekerasan
Iya…merdeka!
Itu sih dulu!
Ketika tak ada narkoba
Tak ada sabu
Tak ada ganja
Itu merdeka!
Merdeka? katanya
Tapi penjajahan sepenuhnya usai
Generasi penerus bangsa? katanya
Tapi kok? lebih pantas
Di sebutnya generasi penerus narkoba
Rakyat merdeka?
Masa sih?
Bukannya rakyat sekarang di cekik kemiskinan?
Ketika banyak bantuan untuk rakyat!
Pejabat merdeka?
Iya… merdeka koruptornya
Generasi muda merdeka?
Iya… merdeka begalnya
Mereka yang merdeka
Adalah mereka yang lepas dari
Belenggu kebodohan
Lepas dari cekikan kekerasan
Bebas dari
Korupsi
Suap
Dan pemerasan
Aku masih bertanya tentang kemerdekaan.
Rappang, 13 Agustus 2015

Bulan Jingga


Bulan Jingga 
karya : Putri Yulia Angreny
Bulan jingga
Merindu bintang dalam bingkisan
langit hitam pekat merana
Dilindungi lingkaran awan abu
diselimuti hembusan angin
Bulan jingga
Merona dalam gelap malam
tanpa bintang
menyapa ruang dalam
lingkaran bola bumi

Rappang, 02 Agustus 2015

adzan dan senja itu

Tema : Religi
judul : adzan dan senja itu
karya : Permen Kapas
Bergema kumandang Adzan
Terasa bagaikan angin berhembus lembut
Menembus rongga pendengaran
Mengalir dalam darah
Menuju lautan hati
Tatkala mentari kembali
Keperaduannya yang tinggi di singgasana
Kembali tergambar
Awan putih merona jingga
Bak permen kapas melayang
Dilangit
Inginku kesana berdiri
Bersama awan dan
Membawaku terbang
Menuju Arsy Sang Khalik
Sidrap, 14 Agustus 2015

FM. Gara-gara Cinta Bersemi Disandungan Pertama

Gara-gara Cinta Bersemi Disandungan Pertama

Karya : Permen kapas

“Aduh! Sakit tau mba Fit,” keluh Frina.

“Yowes, sorry Na! Abisnya kamu tuh sibuk bener, baca
apaan sih?” tanya Fitri.

Frina langsung menyembunyikan buku "Cinta Bersemi
Disandungan Pertama."

“Ngak papa kok mbak,” kata Frina.

“Sini mba liat!” ujar Fitri.

“Ngak ada papa loh mbak,” balas Frina.

“Yaudah kalau kamu gk mau, aku aduin ke mas Panji, biar
kamu tuh dimarahin baca buku kok cinta-cintaan.” Fitri kemudian berlari sambil manggil Panji, "Mas Panji!”
teriak Fitri.

“Aduh mba fitri usil banget sih, bisa kena marah beneran
nih ma mas Panji kalau ketahuan Baca buku tentang
cinta," gumam Frina.

Frina kembali mengambil bukunya yang disembunyikan
dibawah bantalnya, dan berlari menuju lemari pakaian. 

“Simpen disini aja, mas Panji kan ngak mungkin bongkar
lemari pakaian Frina," gumamnya lagi.

Sesaat kemudian Fitri dan Panji menghampiri kamar Frina
Sambil mendorong Panji, “Lihat tuh mas! Frina masa baca
bukunya tentang cinta'an, kan gak boleh." Kata Fitri.

“Aduhh! Fit, jangan dorong-dorong deh! Frina Bener yang dibilang mba mu ini, Kamu baca buku apaan emangnya?" tanya Panji.

“Ngak kok mas!” Frina membela diri.

“Coba sini mas Panji mau lihat bukunya!” kata Panji.

“Cepetan kasih mas Panji bukunya!” sambung Fitri.

Frina mengambil bukunya yang disembunyikan di dalam
lemari pakaiannya.

“Ini mas bukunya, tapi jangan diapa-apain! soalnya itu
bukunya Anggi, Frina cuman minjem doang,” kata Frina.

“Cinta Bersemi Disandungan Pertama.” Panji membaca
cover buku tersebut.

“Wahh, ini mah penulisnya temennya mas Panji, namaya
Pino, hahahaha ini bukunya baca lagi,” kata Panji.

“Lahh kok mas?” Fitri bingung, Frina sumbringan

Senja dan sedikit Goresan usangku

Senja dan sedikit Goresan usangku
oleh : Putri Yulia Angreny (permen kapas)
Memori hujan tergambar lagi
Teringat ketika kita bergandengan tangan
Menuju tepi danau kampus merah;
Aku pandangi wajahmu
Yang kala itu sedang
menikmati hidangan
secangkir kopi hitam dan
Sepiring Pisang coklat keju;
Aroma hujan, membuyarkan
lamunanku
hahhhh.. ternyata itu hanya sebuah
ingatan yang harus kulupakan;
Diteras pondok bambu itu
Senja menyapa orange hatiku.
Sidrap, 14 Agustus 2015
Masih tentang Awan
Oleh : permen kapas
Sang surya menyapa pagiku
Mengintip di balik jendela
Membiaskan cahaya yang indah
Awan putih berarak
Seperti permen kapas di singgasana
Langit biru
Mentari bersinar
Menembus celah dibalik
Awan
Bagaikan air terjun
dari surga yang jatuh ke bumi
parepare, 22 Agustus 2015

Puisi dengan judul PERNAH MENJADI ISI HATIKU

Pernah Menjadi Isi Hati
Oleh Putri Yulia Permen Kapas
Maafkan aku
Aku menangisimu dalam rinduku
Yang tak kunjung reda
Di dada
Maafkan aku
Akan ku relakan kau pergi bersamanya
Meski aku tak mampu membendung pilu yang teramat
Jika esok kau temui diriku
Dalam butaku,
Ku mohon jangan kau beritahu aku
Kau melihatku
Jika esok kau mendengar
Kepergianku
Izinkan aku
Menggandeng bayangmu yang semu
Sebagai teman hidupku dalam
Mataku yang tak lagi melihatmu
Dalam rinduku,
Pare-pare, 21 Agustus 2015

puisi

Tradisi Tergoyak Zaman
Karya     : Putri Yulia Angreny ( permen kapas)

Kini peradaban telah berevolusi
Sendi-sendi kehidupan tak lagi sama
Nenek moyang pun terpuruk
Pertiwi telah diperkosa oleh zaman

Dahulu
Kehidupan dipenuhi dengan
Sajak yang mengedepankan
Nilai kebudayaan dan sosial
Kalimat elok,
Tutur kata yang santun penuh rasa
Serta kejujuran hati
Yang mendalam
Tergores dilembar-lembar
Kertasyang lusuh dan usang

Sekarang?
Jangan Tanya lagi!
Dunia dipenuhi dengan kata yang romantic
Gombalan para muda-mudi
Dimabuk asmara
Lihat saja diberbagai media
Kadang berdusta untuk
Sebuah rangkaian kalimat
Roman picisan
Tak lagi hirau pada
Kejujuran kalbu

Tak hanya itu!
Lentik jemari sang penari
Gerakan lemah gemulai penuh rasa
Hentakkan kaki pelan seirama
Iringan khas tradisi
Keindahan pancaran pesona
Perempuan lembut
Menghipnotis mata yang
Melihatnya

Kini!
Itu tak lagi ada
Tarian tradisional kini
Dimutilasi dan tergantikan
Oleh gerakan yang menggila
Meliuk-liuk energik penuh ambisi
Kadang bagai ular berbisa


Tidak sampai disitu!
Budaya yang dulunya sangat
Dijaga dan diagungkan
Kini telah dirobek-robek
Oleh globalisasi

Lantunan lagu daerah
Yang khas merdu nan menenangkan jiwa
Diiringi petikan jemari pemuda
Pada senuah kecapi
Terdengar begitu syahdu

Sekarang?
Apa yang terjadi?
Manusia seakan menutup
Kuping masing masing
Dengan berbagai alat yang canggih
Tak lagi memperdulikan
Suara-suara kecapi yang
Telah lapuk termakan rayap

Kini
Kecapi usang telah tergantikan
Dengan alat yang modern dan canggih
Hanya perlu aliran listrik
Dan jadilah gelegar
Ala konser penyanyi rock luar negeri

Terkadang membuatku bingung?
Bagaiman mungkin tradisi
Menghilang begitu saja
Dan dikuasai oleh kecanggihan
Peradaban saat ini ?

Tak mungkin manusia
Seceroboh itu bukan?
Melangkah ke modern tidak harus
Meninggalkan dan menghilangkan
Tradisi kebudayaan yang
Telah lama lahir
Disendi kehidupan manusia.


Parepare, 07 Mei 2015

puisi kemerdekaan

Hari Ini 17 Agustus
Oleh    : Putri Yulia Angreny (Permen Kapas)

Hari ini
17 Agustus
Kami para penghunimu
Merayakan kemerdekaan
Bebas dari tangan besi para penjajah

Hari ini
17 Agustus
Kami para rakyatmu
Berterima kasih
Setulus dan sedalam-dalamnya
Untuk para pahlawanmu
yang relamenumpahkan darah
untuk membela negeri tercinta ini
Untuk para pejuang bangsa ini
Yang rela menantang maut
Demi bangsa yang indah ini

Hari ini
17 Agustus
Kami para generasi muda
Akan kembali berjuang
Demi tanah tempat kami berpijak
Demi udara pagi yang kami hirup
Demi Indonesia yang Merdeka
Kami akan melawan kebodohan kami sendiri

Hari ini
17 Agustus
Kami para generasi penerus bangsa
Menyuarakan kemerdekaan
Meneriakkan semangat berjuang
Untuk menghargai para pejuang

Hari ini
17 Agustus
Merah putih ditinggikan
Merah putih dikibarkan
Dan Merah puti dindahkan
Tak hanya di seantero nusantara
Tapi dihati para rakyatmu yang
tahu akan makna kemerdekaan

hari ini
17 Agustus
Indonesia Merdeka
Dirgahayu Negeriku Tercinta
Indonesiaku bangga kami bersamamu

Rappang, 17 Agutus 2015