Kamis, 03 Desember 2015

SELUBUNG CINTA BERJERIT DUKA

Diselubung Cinta Berjerit Duka

            Di sudut-sudut desa itu, masih terngiang bagaimana tumpahnya musim semi karena terguyur senjata api. Tanah terkuat sekalipun porak poranda karna benturan dari jiwa-jiwa yang memecahi langit. Sebelumnya, sudut desa ini diselubungi jembatan warna-warni. Tapi kini, bahkan hanya ada darah yang mengalir dan mengkoyakkan bunga-bunga.
            Di tepi sungai itu, seorang gadis masih menjelajahi alam pikirannya. Ia terpejam. Tak ada gunanya. Semua gelap, seakan cahaya benar-benar tak mau hinggap di pantulan retinanya. Kerudung merah yang dipakainya mendesik angin, ia ikut berbisik, seakan alam mendengarnya tanpa bersuara.
            Brudddkk
            Suara ledakan melebar hingga sayap-sayap pendengarannya. Ia kembali terpejam, meski lagi-lagi tak ada gunanya. Dengan gemetar, daun telinga yang tertutup jilbab itu ia tekan kuat-kuat. Hirup aroma yang tadi baru saja terasa seperti udara di pagi hari, kini tersayup oleh bau anyir dan asap yang tak pernah bisa menyingkir.
            "Ibu, Bapak ..." ia melirih, terpekik. Ingatannya tentang rumah yang ditinggalkan membuyarkan semua ketakutan. Mau tak mau, ia mengangkat tongkat. Menepis hilir-hilir keraguan yang masih terpendam. Ia berjalan, tergagap oleh gempita waktu. Angin berdesing di peraduannya.
            Dalam bayangannya, jelas sudah bagaimana hulu-hulu sungai yang diletusi senjata. Dia pikirkan, jerit-jerit orang-orang itu tak lagi ada gunanya, tiada berdaya.
            “Apa yang kamu lakukan di situ?” Teriak seorang pemuda sambil berlari, menghampiri gadis yang sedang terhimpit orang-orang itu.
            “Aku ingin menyusul Bapak dan Ibu! Mereka masih di rumah, aku tak mungkin mengungsi sendirian!” jawab perempuan itu sambil menatap kosong tepi langit yang berasap.       “Kau pergi bersama siapa? Aku tetap akan membawa pergi dari sini, desa kita sudah tak aman lagi!” Pemuda itu lantas menarik gadis itu ke belakang gudang. Suara lantang dari pacuan kuda menandakan perkara yang benar-benar bukan sebuah kebeuntungan.
            “Aku tak ingin pergi dari sini, ini desaku, kampung halamanku, satu-satunya yang tersisa di hidupku!”
            “Sudahlah tak ada gunanya kau berada di sini, desa ini sudah sangat berbahaya, ikutlah denganku!” bujuk pemuda itu sambil menengok kanan kiri. Kedua tangannya lantas memeluk gadis itu ketika suara ledakan kembali merenggut jerit beberapa orang.
            “Diam! Lepaskan aku! Aku tidak akan ikut denganmu kau bukan muhrimku!” kata perempuan itu sambil mendorong sang pemuda.
            "Ck menurutlah! Siapa namamu?"
            "Aisyah,"
            "Ayolah Aisyah!"       
            "Tidak mau!" Suara tembakan kembali menggelegar di pinggiran gudang itu, Aisyah masih keukeuh dengan pendiriannya, ia tak mau ikut dengan pemuda itu alasannya karena pemuda itu bukan muhrimnya. Suatu alasan yang bisa dibilang terlalu fanatik untuk kondisi seperti ini. Namun, pemuda itu tak mungkin meninggalkan Aisyah , dengan berat hati, pemuda itu menggandeng tangannya dan berlari menuju hutan rimba, tempat yang paling aman.
            Sadar tak sadar, langkah pemuda itu terlalu cepat sehingga Aisyah sedikit terseret-seret. Meskipun begitu, meskipun pemuda itu menggandeng tangannya, Aisyah berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman sang pemuda. Tak peduli suara langkah kaki dari belakang yang mengancam nyawanya.
            “Ku mohon lepaskan tanganku, kau akan sangat berdosa karena memengang tangan perempuan yang bukan muhrimmu! Apalagi kau membiarkan Ibu dan Bapakku di sana!”     “Maafkan aku tapi ini sangat mendesak, jika ku tak menarik tanganmu, kau tak akan tertolong lagi.” Kata pemuda itu .
            Pemuda itu terus menjaga Aisyah, memotong daun-daun yang menghalangi langkah mereka, bahkan sampai mengangkat tubuh Aisyah ketika hendak turun atau naik cadas. Entah apa yang akan terjadi dengannya jika Pemuda itu tak menarik Aisyah untuk ikut.
             “Berhentilah menarikku, kita sudah terlalu jauh dari desa!” Mohon Aisyah Sambil terus berjalan setengah berlari.
            “Maafkan aku Aisyah, aku tahu kita bukan muhrim, tidak sepantasnya berbuat sepeti ini, tapi ini Allah telah menyuruhku untuk menjagamu!” Gumam pemuda itu di sela larinya.           Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak, meski pemuda itu bukan siapa-siapa untuk Aisyah, namun, pemuda itu menjaga Aisyah dengan baik. Sampai mereka berlari terlalu jauh dan tak menemukan tempat para warga bersembunyi.
            “Kita beristirahat disini, mungkin lebih aman.” Kata pemuda itu dengan napas tersenggal.
             “Jika seperti itu maumu, bisa kau lepaskan tanganku sekarang!?” jawab Aisyah setengah Emosi. Pemuda itu lantas tersenyum, lalu melepas genggamannya.
            “Kau akan sangat berdosa!” kata Aisyah. Pemuda itu hanya terdiam merenungi apa yang telah terjadi barusan, meskipun sudah terlalu jauh dari desa, namun suara ledakan masih nyaring di dengarnya, sedangkan Aisyah masih saja bergelut dengan kesedihannya, menangis pilu yang teramat dalam, sesekali memejamkan matanya, sekali lagi itu tak ada gunanya.
            Matahari kini kembali keperaduannya membiaskan cahaya jingga yang memantul di sela pepohonan. Tak ada lagi lantunan ayat suci dari surau-surau yang berada di desa. Tapi ...
            "Audzubillahiminasyaitoonirrodzim ...." Aisyah mengangkat kepala. Menepis air mata yang keluar dipelupuk retina. Ia terkesiap, meski dalam hati sudah gentar oleh rasa yang, entahlah, tapi pemuda itu sungguh membuat Aisyah sedikit, terkesima.
            Cicit burung menghuyung angin mengitari hutan itu. Aisyah menghela napas panjang, sambil membayangkan bagaimana rupa pemuda yang masih melantunkan ayat-ayatNya, bagaimana bisa ia berpikir bahwa ia begitu mengagumi pemuda itu? Bahkan ketika ia tak bisa melihatnya sama sekali?
            "Astagfirullah!" Sahutnya sembari mengusap wajah. Suara gesrekan dahan-dahan mensunyikan suasana. Pemuda itu lantas mendekati Aisyah, menjadi pelindung gadis berhijab itu.
            "Tolong! Tolong kami!" Pemuda itu berdiri, memandang kerumunan masyarakat yang berlumur darah dan menahan sakit akibat perang tersebut.
***
            "Jadi, Aisyah buta sejak lahir?"
            "Betul, Nak. Dan entah bagaimana lagi saya harus bicara bahwa Bapak dan Ibunya telah tiada." Perkataan dari pria berkumis itu memberhentikan detak jantung sang pemuda sementara. Entah ada apa, semenjak ia bertemu gadis yang sedang kebingungan mencari arah pulang itu, ia merasakan sesuatu yang tak bisa dikendalikan.
            "Apalagi, ketika adiknya dibawa oleh penculik. Sungguh, ia telah kehilangan semuanya, bahkan sejak kecil." Pemuda itu tersenyum kecut. Ia mengalihkan pandangannya pada beberapa warga yang diobati seadanya, sepersekian detik, ia menatap wajah cantik milik Aisyah. Ya Allah ada apa?
            Brum brak brdekk
            Suara tembakan itu membuyarkan semuanya.
            "Lari! Cepat lari semuanya!!" Teriak sang pemuda. Semua kerumunan orang berlari, tak ada tujuan. Aisyah tak tahu harus bagaimana dan sepertinya kebingungan suara-suara tembakan itu seakan membuatnya gila, sambil menutup kupingnya yang masih terbungkus jilbabnya,Ia menyusuri jalan meski terkadang tersandung dahan pohon yang jatuh.
            “Aisyah,” teriak pemuda itu menghentikan langkahnya, “maafkan aku Aisyah kali ini, tak akan ku biarkan genggamanku melepasmu” guman pemuda itu. Tak ada sedikitpun kata yang keluar dari bibir mungil Aisyah sebagai jawaban.
            Tanpa menunggu lama, sang pemuda pun kembali menggenggam erat tangan Aisyah seraya berlari menyusuri hutan. Kerumunan orang tadi telah menghilang entah kemana, lari karena saking takutnya mereka terhadap musuh yang mengincar.
            “Kita akan kemana?” Tanya Aisyah setengah menangis.
            “Aku juga tak tahu kemana tujuan kita ini,” Aisyah terus menangis pilu. Sang pemuda terus menggenggam tangannya meski hati pemuda pun merasa miris mendengar tangisan orang yang dia kagumi.
            “Ya Allah, Yang Maha Pemurah, lindungilah kami dari marabahayaMu Ya Robb.” doa pemuda tersebut, “Aamiin.” Meski pelan namun Aisyah mengaminkan doa sang pemuda.
            “Aisyah, kita akan menyeberang sungai, aku akan menggendongmu. Biarkan saja aku yang menanggung dosa atas perbuatanku.” Kata pemuda tersebut sambil menggendong tubuh Aisyah. Sekali lagi, Aisyah tak mampu berucap, ataupun melawan perlakuan pemuda tersebut. Hanya doa yang terus ia lantunkan dihatinya, semoga Allah memberinya kemudahan.
            Mereka menyeberangi sungai tersebut, namun ketika sampai di tengah jembatan, sang pemuda menghentikan langkahnya, "tunggu sini Aisyah, aku akan menghalangi jalan agar mereka tidak bisa mengejar kita," bisik sang pemuda dengan tatapan tak lepas dari wajah Aisyah. Gadis itu hanya mengangguk sambil terduduk lesu.
            "Aisyah!" Tanpa disadari sang pemuda, Aisyah dibawa pergi oleh musuh. Mau tak mau, Pemuda itu harus menyeberangi jembatan untuk kedua kalinya. Sebisa mungkin ia membebaskan Aisyah yang dibawa penculik jahanam itu.
            Angin bertiup kencang. Udara terasa menggigilkan badan. Pemuda itu melihat jembatan kayu itu bergoyang-goyang karena ditapaki musuh dari sebrang. Ia pikir mustahil untuk menyeberangnya jika angin kencang bertiup apalagi musuh yang terus bermunculan.         Pemuda itu menghela napas lalu mengedarkan pandangan. Ia tercekat dan badannya terasa seperti terserang demam saat melihat ke utara. Awan gerimis bergumpal-gumpal melaju ke arahnya. Mungkin, beberapa menit lagi hujan besar akan melanda.
            Sedikit menetapkan hati, pemuda itu melangkah ke jembatan yang mendadak menjadi mengerikan. Sayup-sayup terdengar suara tangisan Aisyah dan teriakan dari musuh. Pemuda itu menelan ludah. Jantungnya berdegub kencang. Ya Allah, sejak tadi ia berjanji untuk terus menjaga gadis iti. Tapi, bagaimana sekarang?
            "AISYAH!"
***
            Dua orang itu berjalan beriringan. Sempat terlukis senyum dari pemuda disebelah gadis itu. Pemuda itu merasakan lega yang luar biasa. Para musuh itu membebaskan Aisyah dengan cuma-Cuma, alasannya hanya satu, “kami tidak akan menjadikan wanita sebagai kemenangan yang curang.”
            "Aisyah ..." Aisyah hanya terdiam.
            "Bolehkah aku mencintaimu karena Allah?"
            Hening. Tak ada suara yang bergelombang ditepi udara. Aisyah hanya terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.
            "Ibrahim!" Teriakan itu membungkam selaksa.
            "Kakek?" Aisyah memutar badannya, mengikuti arah suara. "Ibrahin, cucukuu. Ya Allah kau benar-benar cucuku yang telah hilang! Aisyah, sungguh kau berhasil menemukan adikmu! Lihat tanda lahir dan kalung yang ia pakai, percis ketika adikmu diculik!" Mereka menelan ludah pahit.
            Samar-samar, air mata dipelupuk Aisyah meluncur. Ya Allah, jika pemuda itu cucu kakek, berarti pemuda itu juga, adik Aisyah yang hilang? Sambil menahan perih, gadis itu mengenggalamkan wajahnya diantara denyut-denyut nadi yang masih tersisa. Ia ingin berkisah pada pemuda yang kini direngkuh Kakeknya. Ia ingin bercerita tentang segala kehilangannya, Ya Allah ia sungguh menginginkan hal itu terjadi. Sayang, waktu memang tak bisa menunggu untuk berhenti.
            Dalam segenap sunyi yang tak terbentuk, gadis itu mengangkat wajah, merasa dalamnya rasa berat yang membebani hati. Dan mungkin, setelah itu jutaan malaikat kembali menemui bumi. Tanpa Aisyah sadari, satu detik setelah rasa cintanya harus dimusnahkan, sabuah peluru menancap tepat menancap di punggung Kakek dan adiknya, Ibrahim, cintanya.       "Ya Allah!! Ada apa?" Ia berjalan mundur satu langkah. Berhenti. Firasatnya sudah tak baik lagi.
            "Jika Allah tidak menakdirkan kita untuk saling melengkapi, setidaknya berikan aku keyakinan bahwa kita pernah saling mencintai." Lirih adik kesayangannya sebelum gelap menyelubungi asap otak. Aisyah menangis. Benar-benar menangis. Namun, Sepersekian detik kemudian, seorang musuh menyeringai dibalik tubuhnya. Sebuah peluru tepat menancap diantara rusuk-rusuknya.

***tamat***

OLEH : PUTRI YULIA ANGRENY 
LIA SYLVIA DEWI

BIOLA



(B)iarkan rasa itu benar menjalar menjadi akar dibalik semua ini. (I)ndahkan sedikit kisah yang mulai tergores dalam sendu malam bisu seperti (O)ase seakan tercari di padang gersang melegakan dahaga musyafir kelana sunyi dan (L)antunan serta gesekan senar telah lama menanti sentuhan lembut dengan rasa yang (A)kan terasa nyata oleh dawai kerinduan asa yang sedang kau mainkan dengan sangat nyata dalam dunia khayal. 

Minggu, 27 September 2015

entahlah :(

Bisikan asamu samar-samar terdengar indah.
Taman langit sedang membiru dalam balutan selimut putihnya awan. Entahlah apa yang menyerang sekeping hati kecil ini, mungkin masih tentang virus merah jambu yang kau suntikkan kepadaku kemarin, atau memang aku merindumu lagi?
Rappang, 25sept15

Sabtu, 26 September 2015

kau! Iya kau!

Kau! Iya kau!
Kau yang melelehkan hati ini
Kau yang taburi bunga di taman hati
Kau yang menyejukkan hati dengan tetesan embun kasihmu
Kau yang mendekap asaku

kau! Iya kau!
Kau yang senyumnya membuatku terlena
Kau yang memelukku dalam doamu
Kau yang menyayangiku sepenuhnya
Kau sandaran hatiku

Kau! Iya kau!
Kau yang ku rindukan
Kau yang ku impikan
Kau yang ku inginkan
Dan kau...,

Rappang, 25sept15

Jalanku

Judul               : jalanku
Pengarang       : Putri Yulia Angreny

Berliku jalanku
Berbatu yang kulalui
Terasa pilu
Terasa perih
Aku lelah menanti yang tak pasti

Aku ingin  menghindar
Aku ingin berlari
Aku ingin menjauh

Tapi,
Tak satu pun 
Yang membiarkan ku menghindar
Mereka mendekapku dalam naungan kasihnya
Kenyataan pun tak memberi kesempatan untuk berlari
Karena ada keyakinan bahwa semua bisa terlewati
Menjauh? Apa mungkin aku bisa?
Haaaaaahhhhhhh …, semuanya terasa lengkap sekarang
Kebahagian, kesedihan, kebingungan, kelelahan, kesenangan.

Parepare,26 september 2015


Rabu, 16 September 2015

Angin

judul : Angin
oleh  : Putri Yulia Angreny

Angin...
Kau tahu hal apa yang sulitku terima darimu?
Hembusan yang kencang
Yang menyeret debu menampar wajahku
Yang menjatuhkan dedaunan menjadi sampah

Angin...
Kau tahu hal apa yang menyenangkan darimu?
Bukan tentang hembusanmu
Tapi tentang sentuhanmu yang menyapa kulitku
Tentang aromamu yang menusuk hidungku
Dan tentang rinduku yang selalu kutitip didirimu.

Pareparee, taman kampus
07 september 2015

Minggu, 13 September 2015

part 2, Nada Cinta Ghunnah; Meredam Perasaan

Nada Cinta Ghunnah; Meredam Perasaan, Part2

oleh :
Erlangga Dias ( Pinokio Ushang)
Hifdiel Maasi (Aang Irawan)
Assahilah Nurul Mukarromah
Puput Biseru (Putri Yulia Permen Kapas)




Pagi mulai menyapa, kokok ayam dan sinar mentari begitu terasa, sebagian santriyat sudah melakukan aktivitasnya masing-masing, termasuk Anggie yang masih saja bergelut dengan tugasnya yang ia kerjakan sehabis sholat subuh tadi. Tak terasa waktu sudah sangat molor, Anggie masih keukeuh untuk menyelesaikan tugasnya hari ini juga.

“Walahhh …, bisa kena lemparan spidol nih kayaknya kalau nggak selesai,” gumamnya sendiri.

Tiba-tiba fitri dan Assa datang ke kamar Anggie,

“lahhh …, Ngiie, kok belum ke kampus, entar kamu telat lohh,” kata Fitri.

“Iyaa Nggie …, baru kali ini aku lihat kamu telat ke kampus, emang kenapa? Ada masalah kamu?” tanya Assa kepada Anggie.

“Heemm …, nggak papa Sa, Fit bisa bantu aku bikin sampul ini nggak? Aku mau mandi dulu, biar ngaak telat.” Anggie minta tolong ke Fitri.

“Sini coba aku lihat Nggie, mungkin bisa bantu,” sambil menarik tumpukan kertas dari meja belajar Anggie.

“Makasih yah Fit, Sa , aku mau mandi dulu.” Anggie setengah berlari mengambil perlengkapan mandinya menuju kamar mandi sambil menunggu Anggie selesai mandi. Fitri dan Assa membantu Anggie menyelesaikan tugas kampusnya.

Safa tiba-tiba muncul dibalik pintu kamar Anggie.

“Fit, Sa, kalian sedang apa di sini?” tanya Safa ke Fitri dan Assa.

"Ini Fa, kita lagi bantuin Anggie bikin sampul buat tugasnya," sahut Fitri sambil terus mengotak-atik hasil kerjanya itu.

"Boleh ikut bantu?" Safa menawarkan diri.

"Nggak usah Fa, ini juga udah selesai tinggal dirapikan sedikit," tolak Assa.

"Kalo sudah selesai nanti sekalian minta tolong diberesin yah?" teriak Anggie sembari menghadap cermin merapikan kerudung yang akan ia pakai ke kampus.

"Siap Anggie yang cantik," ucap Fitri dengan nada menggoda Anggie. Setelah dirasa cukup untuk ke kampus, Anggie langsung bergegas pamit.

"Aku berangkat dulu yah Fit, Sa, Fa. Makasih semuanya," ucap Anggie sambil mengambil tas yang sudah siap untuk dibawanya.

"Sama-sama Nggie," sahut mereka bertiga bersamaan.

"Assalamu'alaikum." Anggie setengah berlari keluar dari kamarnya.

"Hati-hati Nggie," teriak Safa.

"Siap!" sahut Anggie dari kejauhan.

          Pagi menampakkan senyum indahnya, di balik awan mentari membiaskan pantulan sinarnya di lautan lepas, tembok-tembok yang tidak terlalu tinggi menjadi pembatas antara pantai dan jalan aspal, sebisa mungkin pemerintah kota ini menata kota namun tak meninggalkan ciri khasnya yakni pesisir. Sementara di kampus, terdapat beberapa mahasiswa berlarian karna takut telat sampai di kelas.

"Bluk...!" Terdengar buku-buku terjatuh dari pegangan seorang mahasiswa. Tak disangka, ada seorang wanita tepat dibelakangnya. "Bruk...!" Suara benda berat terjatuh.

"Aduh ..., kamu itu kalo jalan yang bener dong! kenapa tiba-tiba berhenti di jalan sih!" bentak wanita yang menabrak seorang pria yang berhenti karna bukunya terjatuh.

"Eh, kamu nggak ngerasa bersalah banget sih? jelas-jelas kamu yang nabrak aku!" sahut cowok itu. Mereka berdua berusaha berdiri dari jatuhnya dan saling membersihkan baju yang kena debu di jalan kampus. Setelah mereka saling bertatapan, suasana menjadi berubah.

"Iya deh iya aku yang salah. Aku takut telat soalnya," terang wanita itu.

"Ya udah nggak papa, tadi bukuku jatuh, jadi aku berhenti untuk mengambilnya. Oh iyah, aku Panji dari fakultas MIPA. Kamu siapa?" ucap Panji sambil mengulurkan tangan.

"Oh, aku Putri dari fakultas Ilmu Pendidikan," jawabnya membalas uluran tangan Panji.

"Aduh!" teriak Putri.

"Maaf maaf, aku nggak sengaja. Aku buru-buru takut telat," ucap Anggie yang tiba-tiba menabrak jabatan tangan antara Panji dan Putri.

"Maaf yah!" sambung Anggie lagi sambil ngos-ngosan.

"Iyah tenang aja, nggak papa kok," sahut Putri.

"Ayo buruan kita hampir telat," ucap Anggie mengingatkan.

"Iyah ayo!" sahut Putri.

Ini adalah pertanda bahwa Anggie dan Putri akan menjadi sahabat yang baik nantinya, sebelum kejadian ini mereka belum pernah berkenalan, hanya pernah melihat satu sama lain dalam kelas. Sambil berlari menuju ruangan perkuliahan Putri menyempatkan berkenalan dengan Anggie.

“Huuufff …, capek yah, lari-lari mulu.” Putri membuka pembicaraan.

“Iya nih, capek,” sahut Anggie.

“Oh yah, aku Putri tapi biasa di panggil Puput, kamu siapa?” sambil mengulurkan tangannya ke Anggie.

“Aku Anggie, maaf yah tadi langsung aku tarik, soalnya aku pernah lihat kamu di kelas,” kata Anggie.

“Iya, nggak papa kok!” sambil tersenyum.

Anggie dan Putri berjalan cepat menuju ruang kuliah, mereka meninggalkan Panji sendiri menyisakan sejuta pertanyaan dalam benaknya. Panji hanya mematung melihat ke arah mereka berjalan tadi.
***

  Sepeti biasa di pondok pesantren aktivitas juga sudah berjalan seirama dengan alunan waktu yang terus berdetak seperti jantung dan berdenyut seperti nadi. Seorang pemuda masih saja bergelut dengan sisa-sia Tanya yang masih menghantui benaknya.

"Aish … ini gila, hanya sebuah nama tapi mampu membatalkan rencanaku." Aang menggerutu aneh baru pertama mendengar nama santriyat hatinya serasa tergetar bahkan mampu membelokan niatnya untuk menanyakan makna namanya sendiri hanya karena sebuah nama "Nama itu ibarat mani' yang menggugurkan muqtadi' kejadian ini mungkin termasuk qoidah Idajtamaal mani' walmuqtadi, gholabal mani' alal muqtadi' heheh," bathinnya terkehkeh, menurutnya tujuan menelpon ibunya adalah muqtadi' dan nama itu itu adalah mani' yang menggagalkan rencananya.

"Astagfirulloh aladziim, ini hati kenapa ya?" Aang bertanya sendiri merasa tidak seperti biasanya.

"Wah ini gak boleh dibiarkan, ane harus tahu penyebabnya," tekadnya, karena bagi Aang sesuatu yang datang menyalahi asal maka harus diketahui sebab dan ilatnya, seperti isim mabni, kenapa harus mabni padahal asalnya isim itu mu'rob.

Setelah Aang tertidur Pino datang baru selesai mandi, ia hanya menatap Aang sejenak sembari tersenyum lucu melihat Aang tidur meringkuk di balik sarung seperti kucing kedinginan. Lalu ia mengganti baju, sarung dan kopiahnya. Sajadah ia hamparkan menghadap arah yang diridhai Alloh sebagai kiblat shalat, yaitu Baitulloh. Ada orang beranggapan bahwa islam menyembah ka'bah, mereka tidak tahu bahwa islam hanya menyembah
Allah, ka'bah hanya patokan arah yang diridhoi Allah saat shalat. Selesai shalat hajat Pino menghaturkan munajat pada Allah, salah satu munajatnya :

"Ya Allah yang menguasai hati, kuasailah hatiku dan serahkan pada Peri Biru yang akan kau jadikan ibu dari anak-anaku kelak, dengan ridho dan barokah dari-Mu Ya Rohmaan."

Malam kian larut, menyelimuti tubuh bani' Adam yang terlelap kedinginan karena musim kemarau. Para santri Darul Mutaallimiin tidak ada yang keluar, pintu gerbang ditutup, terlihat seperti penjara suci bagi yang mendekatkan hatinya pada Illahii, sampai tiba di ¼ malam …

"Uhhh ,, ya Allah udah jam tiga, qiyamul lail dulu ah," kata Safa setelah mengucap doa bangun tidur sambil menatap jam dinding di pojok kamar.
Namun ia takut ke kamar mandi sendiri, juga segan kalau membangunkan Fitri yang masih tidur pulas. Akhirnya dengan tekad Tiada yang perlu ditakuti selain makar Allah, ia keluar juga. Safa menuruni tangga dan berjalan sebentar untuk sampai di kamar mandi. Namun saat akan masuk, seseorang keluar. Tak berapa lama.

"Aih,"

"Aduh," terdengar dua suara berbeda kaget kesakitan.

"Aina ainuka?" kata Safa kesal.

"Ha …," baru orang itu akan menjawab pertanyaan frina tenggorokkannya tercekat kering "maa roaitu hurron 'in?" bathinnya bertanya kagum melihat mata jelita. Safa pun hatinya tercekat melihat orang dihadapannya, dengan wajah bersih dan masih tampak bulir-bulir air wdlu menempel di wajah yang tersorot lampu pondok itu.

"Masya Allah ...," Tanpa sadar hatinya bergumam. Saat kejadian yang kayak sinetron pangkat lebay akut itu berlangsung.

"Ciee, Gus Aang, sampe keluar gitu matanya, lihat wajah Safa, hahaha." Assa datang langsung maen jebred aja sama orang di hadapan safa bersama Fitri dan Anggie.

"Iya Sa, ilernya sampe muncrat, haha," timpal Anggie.

"Udah Gie, Sa …, wajahnya udah kaya minta ditabok tuh, haha." Fitri pun yang biasa ramah lembut tak kuasa menahan tawa melihat wajah Aang yang memerah.

Aang hanya mendengus malu, masuk lagi ke kamar mandi mengambil wudhu. Kalau air di kamar mandi santriyin tidak macet mungkin kejadian ini gak akan terjadi sesal Aang kesal karena malu ditertawakan. Setelah wudhu Aang keluar, saat melewati Safa yang sedang menunduk di tempat agak jauh dari kamar mandi ia berhenti dan bebisik "Kamu sudah dua kali membatalkanku," bisiknya disertai dengusan.
Safa hanya terbengong aneh .

"Dua kali? perasaan baru tadi ketemunya juga, dasar aneh." Safa mengangkat bahu tanda 'sebodo teuing' lalu masuk ke kamar mandi.

Minggu, 06 September 2015

masih versi curahan hati

Sang Maha Pengasih memberiku sebuah kotak kecil istimewa smile emotikon, sebuah oase yang telah lama kurindukan, sebuah embun yang menyapa hatiku, sebuah Hikmah dari semua ceritaku, meski Dia mengemasnya dalam bentuk yang perih smile emotikon.
memberiku sebuah september meski bertabur butiran air mata, tapi melunturkan egoku smile emotikon.
ini hanya sebuah Rasa yang kurasakan saat ini, smile emotikon
07.09.15/ 00;22. parepare

ini versi curahan hati

Tak sekuat dirimu yang masih bisa membuatku tersenyum manis dibalik Cinta-Nya Allah padamu smile emotikon. bukan wujud benci-Nya, tapi wujud Cinta-Nya, bukan pula Azab-Nya tapi Cobaan-Nya yang akan membuatmu lebih Indah, seperti pangeran, meski tak berkuda putih smile emotikon
Aku tahu ini berat, makanya Sang Pencipta, menciptakan sesuatu berpasang-pasangan, yah itu, untuk saling berbagi, suka maupun duka, canda ataupun sedih, semuanya harus dibagi...
tetap selalu tersenyum meski perih
smile emotikon
ingat ketika awal cerita kita, hanya sebuah senyuman smile emotikon
parepare, 06 september 2015/23:57

Sabtu, 29 Agustus 2015

CERBUNG (part1)

Judul : Nada Cinta Ghunnah; Meredam Perasaan.


Karya :
Erlangga Dias ( Pinokio Ushang)
Hifdiel Maasi (Aang Irawan)
Assahilah Nurul Mukarromah
Puput Biseru (Putri Yulia Permen Kapas)



Suasana malam sebuah pondok pesantren Darul Mutaallimiin sangat menenangkan sanubari, apalagi saat sedang mengaji akan terlihat santriyin dan santriyat yang sedang membalag kitab-kitabnya dengan khusyuk, ada yang nashrif, qira'atul Quran dan banyak bentuk ibadah lainnya yang tujuannya hanya satu yaitu mengharap keridhoan Allah Tuhan yang satu. Seorang santriyin sedang terpekur sendiri di serambi pondok (kobong kalau orang sunda menyebutnya) merenung seperti serius, padahal dia hanya merenungkan arti namanya sendiri.

“Aiih ..., kata Kang Ustad tadi setiap nama adalah doa, lalu arti nama ane apa ya? masa Abah sama Emak ngasih nama gak bermakna, ah apa ane telpon aja emak ya? sekalian nanyain kabar keluarga." batinnya bertanya.

Dasar wataknya sudah begitu, kalau suatu urusan belum jelas, ia akan mencari sampai terbuka kejelasannya.

  Beranjaklah ia ke kamar kobong yang luasnya hanya setengah dari kamar rumahnya, cuma cukup untuk dua orang, semua kamar di pondok sama seperti itu, 'biar masakat' kalau kata Abah sepuh. Teringat juga pas suatu hari ada santri baru yang mengeluh tentang kamarnya yang sempit dan Abah cuma bilang, 'Kita lihat, mana yang lebih sempit, kamarmu atau hatimu? kesempitan dunia timbul karena hati yang sempit Jang (Nak) maka belajarlah qona'ah, menerima dan mensyukuri atas pemberian-Nya' Sampai di kamar, ia langsung sibuk mencari handphonenya di lemari di rak kitab, semuanya dibuka-buka tapi barang yang dicari tak juga ditemukan.

"Aduh, mana Handphone ane ya, apa ane lupa?" tanyanya sendiri.

 "Nyari apa antum Ang?" tiba-tiba Pino teman sekamarnya datang baru selesai ngaji Quran.

 "Ane lagi cari handphone sob, ane lupa dimana naro nya,"

"Emm, Ini bukan?" tanya Pino tersenyum geli melihat Aang sudah keringetan nyariin handphonenya.

"Alhamdulillah ..., dari mana antum temuin sob?" Aang sumringan hpnya ditemukan.

"Heheh, kang Ustad yang nitipin. Makanya jangan bawa hp kalau ngaji, tertinggal deh di majlis, untung yang nemuin kang Ustad coba kalau yang nemu orang lain, ilang tuh hp antum," kata Pino mengingatkan.

"Aah, gak mungkin ilang kalau tertinggal di majlis, orang pada baek juga, BTW syukron nih sob."

"Afwaan, darimana antum tahu orang-orang pada baek hatinya, hati orang itu beda-beda sob, mungkin aja asalnya baik pas nemu kesempatan maksiat langsung sikat,"

"Bener juga, bisa jadi tempat yang baik orangnya jelek, atau sebaliknya tempat jelek kumuh orangnya baik,"

"Nah ntu tahu, ukuran baik buruk orang gak ditentuin tempat dhohir, tapi yang nentuin ini..., " kata Pino sambil memegang dada Aang

"Tempat bathin, dimana niat dan ikhlas bermula," sambung Pino tersenyum bijak.

"Widiih, mantep ni mama Pino, jleb banget kalamnya, heheh." Aang terkehkeh kagum

"Tapi jangan lama dong ngelus dadanya, emang ane santri apaan, hahah." Aang terkekeh geli melihat ekspresi jijik Pino.

"Idih, amiiit ..., siapa yang ngelus, elus aja noh pake kerak." Pino kesal karena mulut usil Aang

 "Kahkahkah udah mandi sono, mumpung belum isya, ane mau nelpon Emak dulu," suruh Aang mendorong tubuh Pino keluar kamar.

"Udahh ..., jangan dorong-dorong, entar dikira KDRT lagi, hahah." Pino tertawa berhasil membalas mulut usil Aang yang kini mencibir jijik.

Sementara di pondok santriyat terdengar keramaian yang tidak biasanya. Semua santriyat di barisan kamar Az-Zahriyah keluar dari kamarnya kecuali Anggie yang sedang sibuk menggarap tugas kuliahnya. Ternyata Ibu pengasuh pondok menuju ke kamar Fitri dengan membawa seseorang, sepertinya dia santriyat baru di pondok ini. Benar saja, Fitri disuruh Ibu pengasuh supaya dia membagi kamarnya dengan anak baru tersebut.

"Kenalkan, saya Fitri. Nama kamu siapa?" langsung saja Fitri memperkenalkan dirinya.

"Saya Frina Safa, panggil Safa saja," jawabnya dengan santun.

 "Yah udah ayo masuk Fa!" ajak Fitri.

"Eits tunggu Fit, saya ngikut kamu ke kamar yah? kan saya juga pengen kenalan," tiba-tiba seorang santriyat mengagetkan Fitri.

"Eh, kamu toh Assahilah. Ya udah ayo," sahut Fitri Mereka bertiga pun masuk kekamar Fitri dan Safa.

Dalam satu waktu di tempat yang berbeda, tepatnya di asrama santriyat. Malam yang khas pondok pesantren kini mulai begitu terasa untuk Safa. Meski angin yang berhembus pelan mulai menyeka wajah-wajah para pencari ilmu ini. Safa sedang merapikan barang-barang yang dibawanya maklum Safa adalah santriyat baru di pondok pesantren ini. Kebetulan Safa sekamar dengan Fitri.

"Ayo sini Fa duduk disini dulu, nanti aku bantu kamu beresin barang-barang kamu." Fitri menyilahkan Safa duduk didipannya.

"Oh iyah, aku belum kenalan sama kamu. Aku Assahilah, kamu siapa?"

"Dia Safa Sa,"

"Perasaan tadi aku tanyanya sama Safa, kenapa jadi kamu yg jawab Fit,"

"Biarin, wee."

"Malah ngeledek lagi,"

"Sudah-sudah! kenapa kalian jadi begini?" Safa menenangkan mereka berdua.

"Oh iyah Fa, kamu disini mau mondok aja atau disambi apa?" tanya Assahilah penasaran.

"Urgh …, ada apa sih ini ribut-ribut! aku ngga konsen nih jadinya," tiba-tiba Anggie datang dengan marah-marah karena merasa terganggu.

"Kamu dateng-dateng jangan marah-marah gitu dong Nggie, lihat nih ada santriyat baru," ucap Fitri sambil mendongakkan dagu kearah Safa.

"Oh ...,jadi ada santriyat baru toh?  hehe maaf deh kalau gitu," ucap Anggie cengar-cengir malu.

"Makanya jangan asal marah kalo belum tahu," sahut Assahilah.

"Oke dilanjut aja Fa pertanyaan yang tadi aku tanya," sambung Assahilah.

"Saya disini hanya ingin memperdalam agama saja, tidak dengan kegiatan di luar," jawab Safa

"Iyah bener Fa, daripada kayak saya nanti pusing," sela Anggie.

"Perasaan tadi ada yang marah-marah deh kita ngobrol, tapi siapa yah?" ejek Assahilah sambil ketawa-ketiwi.

"Yah udah sih ngga papa aku ikut nimbrung, biar tambah rame,” jawab Anggie. Mereka tertawa bersama ketika Anggie memberi jawaban yang begitu aneh bagi seorang Anggie.

            Malam kian larut, suara-suara jangkrik mulai terdengar nyaring dalam kamar para santriyin. Meski begitu, Aang masih bergelut dengan tombol-tombol hp miliknya.

Aang pun mulai membuka kunci hpnya, terdengar tombol- tombol berkrek krek saat mencari kontak Emaknya seperti ranting patah, maklum hpnya hp jadul. Setelah nama yang dicari ketemu dan bersiap men dial.

"Kepada Neng Frina Safa, diharap menghadap kerumah Abah Sepuh," Suara Kang ustad melalui pengeras suara memanggil nama santriyat.

"Frina Safa..., " gumam Aang membatalkan niat memanggil Emaknya.

Jumat, 28 Agustus 2015

ini curhat kali yahh...


Terserah pikiranku mau bilang apa ?
yang aku tahu hati ku tak sejalan
dengan pikiran ku saat ini;
Pikiranku melawan hati ku membantah
Setiap rasa yang di utarakan oleh hatiku

Aku tak tahu mengapa pikiran ku
Seakan memberontak untuk hal itu;
Entahlah..
Mungkin?

haaaahhhhhhhhhhhhhhhh
segala kemungkinan bisa saj terjadi begitu saja
tanpa aku tahu apa?
parepare,kamarkumuhku
permenkapasdilangit

7:56 AM 6/1/2015