catatan permen kapas
Rabu, 26 Oktober 2016
.
Boleh ku sapa kau dengan bintang?? Sebab lidahku keluh menyapamu. Izinkan bintang mewakili hatiku menjagamu malam ini. Sungguh.... aku rindu....
Sabtu, 09 April 2016
Andai ku tahu alamatmu sekarang mungkin sudah puluhan ribu kertas berisi rindu melayang ke kotak surat depan rumahmu saat ini.
Apa kabar kamu? masih ingat denganku? perempuan berkacamata yang pernah kau lukis di kanfas kehidupanmu? setiap kali ku tanyakan kabarmu kau tak pernah menjawab. kenapa? kamu sakit gigi? ohh tidak yah... lalu?
Apa kamu lupa denganku? perempuan berkacamata yang selalu memanggilmu "Dii".
Sepertinya kau tak lupa? hanya saja kau enggan menyapaku meski lewat senyum tipis itu.
Kini kita tak saling menyapa. membiarkan biasa saja menjadi penyelamat hubungan ini. aku tak butuh tentang apa yang menjadi "status". yang aku ingin hanya mengetahui kabarmu di tanah lahirmu.
Apa kita bisa bertemu sekali lagi setelah pertemuan tanpa pembicaraan itu? setelah tatap yang mengartikan semuanya? setelah senyum yang menjadi pengingat bahwa aku pernah menemui bukan dalam mimpiku saja?
Sekali lagi, bolehkah aku memahat wajahmu yang penuh jingga itu di pelupuk mataku?
Aku ingin tertawa bersamamu seperti katamu di sela deruh ombak kemarin ketika senja itu menyapa dua bola matamu.
Aku ingin menangis di bahumu, menjadikan air mataku bermukim di dasar hatimu yang menjadikannya sejuk.
Aku juga ingin menggenggam tangan mu yang pernah melukis wajahku di kehidupanmu!
Tanganmu dan tanganku mungkin tak pernah bisa saling menggenggam. Tapi... aku berharap tangan seorang Pelukis menggenggam kuat tangan seorang penulis,
Aku masih menungggu hujan yang mengguyur senja menjadikanya beraroma.
-ini edisi nulis lagi bete. sumpah-
Kamis, 03 Desember 2015
SELUBUNG CINTA BERJERIT DUKA
Diselubung Cinta Berjerit Duka
Di sudut-sudut desa itu, masih
terngiang bagaimana tumpahnya musim semi karena terguyur senjata api. Tanah
terkuat sekalipun porak poranda karna benturan dari jiwa-jiwa yang memecahi
langit. Sebelumnya, sudut desa ini diselubungi jembatan warna-warni. Tapi kini,
bahkan hanya ada darah yang mengalir dan mengkoyakkan bunga-bunga.
Di tepi sungai itu, seorang gadis
masih menjelajahi alam pikirannya. Ia terpejam. Tak ada gunanya. Semua gelap,
seakan cahaya benar-benar tak mau hinggap di pantulan retinanya. Kerudung merah
yang dipakainya mendesik angin, ia ikut berbisik, seakan alam mendengarnya
tanpa bersuara.
Brudddkk
Suara ledakan melebar hingga
sayap-sayap pendengarannya. Ia kembali terpejam, meski lagi-lagi tak ada
gunanya. Dengan gemetar, daun telinga yang tertutup jilbab itu ia tekan
kuat-kuat. Hirup aroma yang tadi baru saja terasa seperti udara di pagi hari,
kini tersayup oleh bau anyir dan asap yang tak pernah bisa menyingkir.
"Ibu, Bapak ..." ia
melirih, terpekik. Ingatannya tentang rumah yang ditinggalkan membuyarkan semua
ketakutan. Mau tak mau, ia mengangkat tongkat. Menepis hilir-hilir keraguan
yang masih terpendam. Ia berjalan, tergagap oleh gempita waktu. Angin berdesing
di peraduannya.
Dalam bayangannya, jelas sudah
bagaimana hulu-hulu sungai yang diletusi senjata. Dia pikirkan, jerit-jerit
orang-orang itu tak lagi ada gunanya, tiada berdaya.
“Apa yang kamu lakukan di situ?” Teriak seorang pemuda
sambil berlari, menghampiri gadis yang sedang terhimpit orang-orang itu.
“Aku ingin menyusul Bapak dan Ibu!
Mereka masih di rumah, aku tak mungkin mengungsi sendirian!” jawab perempuan
itu sambil menatap kosong tepi langit yang berasap. “Kau pergi bersama siapa? Aku tetap akan membawa pergi dari
sini, desa kita sudah tak aman lagi!” Pemuda itu lantas menarik gadis itu ke
belakang gudang. Suara lantang dari pacuan kuda menandakan perkara yang
benar-benar bukan sebuah kebeuntungan.
“Aku tak ingin pergi dari sini, ini
desaku, kampung halamanku, satu-satunya yang tersisa di hidupku!”
“Sudahlah tak ada gunanya kau berada
di sini, desa ini sudah sangat berbahaya, ikutlah denganku!” bujuk pemuda itu
sambil menengok kanan kiri. Kedua tangannya lantas memeluk gadis itu ketika
suara ledakan kembali merenggut jerit beberapa orang.
“Diam! Lepaskan aku! Aku tidak akan
ikut denganmu kau bukan muhrimku!” kata perempuan itu sambil mendorong sang
pemuda.
"Ck menurutlah! Siapa
namamu?"
"Aisyah,"
"Ayolah Aisyah!"
"Tidak mau!" Suara
tembakan kembali menggelegar di pinggiran gudang itu, Aisyah masih keukeuh
dengan pendiriannya, ia tak mau ikut dengan pemuda itu alasannya karena pemuda
itu bukan muhrimnya. Suatu alasan yang bisa dibilang terlalu fanatik untuk
kondisi seperti ini. Namun, pemuda itu tak mungkin meninggalkan Aisyah , dengan
berat hati, pemuda itu menggandeng tangannya dan berlari menuju hutan rimba,
tempat yang paling aman.
Sadar tak sadar, langkah pemuda itu
terlalu cepat sehingga Aisyah sedikit terseret-seret. Meskipun begitu, meskipun
pemuda itu menggandeng tangannya, Aisyah berusaha untuk melepaskan tangannya
dari genggaman sang pemuda. Tak peduli suara langkah kaki dari belakang yang
mengancam nyawanya.
“Ku mohon lepaskan tanganku, kau
akan sangat berdosa karena memengang tangan perempuan yang bukan muhrimmu!
Apalagi kau membiarkan Ibu dan Bapakku di sana!” “Maafkan aku tapi ini sangat mendesak, jika ku tak menarik
tanganmu, kau tak akan tertolong lagi.” Kata pemuda itu .
Pemuda itu terus menjaga Aisyah,
memotong daun-daun yang menghalangi langkah mereka, bahkan sampai mengangkat
tubuh Aisyah ketika hendak turun atau naik cadas. Entah apa yang akan terjadi
dengannya jika Pemuda itu tak menarik Aisyah untuk ikut.
“Berhentilah menarikku, kita sudah terlalu
jauh dari desa!” Mohon Aisyah Sambil terus berjalan setengah berlari.
“Maafkan aku Aisyah, aku tahu kita
bukan muhrim, tidak sepantasnya berbuat sepeti ini, tapi ini Allah telah
menyuruhku untuk menjagamu!” Gumam pemuda itu di sela larinya. Mereka terus berjalan menyusuri jalan
setapak, meski pemuda itu bukan siapa-siapa untuk Aisyah, namun, pemuda itu
menjaga Aisyah dengan baik. Sampai mereka berlari terlalu jauh dan tak
menemukan tempat para warga bersembunyi.
“Kita beristirahat disini, mungkin
lebih aman.” Kata pemuda itu dengan napas tersenggal.
“Jika seperti itu maumu, bisa kau lepaskan
tanganku sekarang!?” jawab Aisyah setengah Emosi. Pemuda itu lantas tersenyum,
lalu melepas genggamannya.
“Kau akan sangat berdosa!” kata
Aisyah. Pemuda itu hanya terdiam merenungi apa yang telah terjadi barusan,
meskipun sudah terlalu jauh dari desa, namun suara ledakan masih nyaring di
dengarnya, sedangkan Aisyah masih saja bergelut dengan kesedihannya, menangis
pilu yang teramat dalam, sesekali memejamkan matanya, sekali lagi itu tak ada
gunanya.
Matahari kini kembali keperaduannya
membiaskan cahaya jingga yang memantul di sela pepohonan. Tak ada lagi lantunan
ayat suci dari surau-surau yang berada di desa. Tapi ...
"Audzubillahiminasyaitoonirrodzim
...." Aisyah mengangkat kepala. Menepis air mata yang keluar dipelupuk
retina. Ia terkesiap, meski dalam hati sudah gentar oleh rasa yang, entahlah,
tapi pemuda itu sungguh membuat Aisyah sedikit, terkesima.
Cicit burung menghuyung angin
mengitari hutan itu. Aisyah menghela napas panjang, sambil membayangkan
bagaimana rupa pemuda yang masih melantunkan ayat-ayatNya, bagaimana bisa ia
berpikir bahwa ia begitu mengagumi pemuda itu? Bahkan ketika ia tak bisa
melihatnya sama sekali?
"Astagfirullah!" Sahutnya
sembari mengusap wajah. Suara gesrekan dahan-dahan mensunyikan suasana. Pemuda
itu lantas mendekati Aisyah, menjadi pelindung gadis berhijab itu.
"Tolong! Tolong kami!"
Pemuda itu berdiri, memandang kerumunan masyarakat yang berlumur darah dan menahan
sakit akibat perang tersebut.
***
"Jadi,
Aisyah buta sejak lahir?"
"Betul, Nak. Dan entah
bagaimana lagi saya harus bicara bahwa Bapak dan Ibunya telah tiada."
Perkataan dari pria berkumis itu memberhentikan detak jantung sang pemuda
sementara. Entah ada apa, semenjak ia bertemu gadis yang sedang kebingungan
mencari arah pulang itu, ia merasakan sesuatu yang tak bisa dikendalikan.
"Apalagi, ketika adiknya dibawa
oleh penculik. Sungguh, ia telah kehilangan semuanya, bahkan sejak kecil."
Pemuda itu tersenyum kecut. Ia mengalihkan pandangannya pada beberapa warga
yang diobati seadanya, sepersekian detik, ia menatap wajah cantik milik Aisyah.
Ya Allah ada apa?
Brum
brak brdekk
Suara tembakan itu membuyarkan
semuanya.
"Lari! Cepat lari
semuanya!!" Teriak sang pemuda. Semua kerumunan orang berlari, tak ada
tujuan. Aisyah tak tahu harus bagaimana dan sepertinya kebingungan suara-suara
tembakan itu seakan membuatnya gila, sambil menutup kupingnya yang masih
terbungkus jilbabnya,Ia menyusuri jalan meski terkadang tersandung dahan pohon
yang jatuh.
“Aisyah,” teriak pemuda itu
menghentikan langkahnya, “maafkan aku Aisyah kali ini, tak akan ku biarkan
genggamanku melepasmu” guman pemuda itu. Tak ada sedikitpun kata yang keluar
dari bibir mungil Aisyah sebagai jawaban.
Tanpa menunggu lama, sang pemuda pun
kembali menggenggam erat tangan Aisyah seraya berlari menyusuri hutan.
Kerumunan orang tadi telah menghilang entah kemana, lari karena saking takutnya
mereka terhadap musuh yang mengincar.
“Kita akan kemana?” Tanya Aisyah
setengah menangis.
“Aku juga tak tahu kemana tujuan
kita ini,” Aisyah terus menangis pilu. Sang pemuda terus menggenggam tangannya
meski hati pemuda pun merasa miris mendengar tangisan orang yang dia kagumi.
“Ya Allah, Yang Maha Pemurah,
lindungilah kami dari marabahayaMu Ya Robb.” doa pemuda tersebut, “Aamiin.”
Meski pelan namun Aisyah mengaminkan doa sang pemuda.
“Aisyah, kita akan menyeberang
sungai, aku akan menggendongmu. Biarkan saja aku yang menanggung dosa atas
perbuatanku.” Kata pemuda tersebut sambil menggendong tubuh Aisyah. Sekali
lagi, Aisyah tak mampu berucap, ataupun melawan perlakuan pemuda tersebut.
Hanya doa yang terus ia lantunkan dihatinya, semoga Allah memberinya kemudahan.
Mereka menyeberangi sungai tersebut,
namun ketika sampai di tengah jembatan, sang pemuda menghentikan langkahnya,
"tunggu sini Aisyah, aku akan menghalangi jalan agar mereka tidak bisa
mengejar kita," bisik sang pemuda dengan tatapan tak lepas dari wajah
Aisyah. Gadis itu hanya mengangguk sambil terduduk lesu.
"Aisyah!" Tanpa disadari
sang pemuda, Aisyah dibawa pergi oleh musuh. Mau tak mau, Pemuda itu harus
menyeberangi jembatan untuk kedua kalinya. Sebisa mungkin ia membebaskan Aisyah
yang dibawa penculik jahanam itu.
Angin bertiup kencang. Udara terasa
menggigilkan badan. Pemuda itu melihat jembatan kayu itu bergoyang-goyang
karena ditapaki musuh dari sebrang. Ia pikir mustahil untuk menyeberangnya jika
angin kencang bertiup apalagi musuh yang terus bermunculan. Pemuda itu menghela napas lalu
mengedarkan pandangan. Ia tercekat dan badannya terasa seperti terserang demam
saat melihat ke utara. Awan gerimis bergumpal-gumpal melaju ke arahnya.
Mungkin, beberapa menit lagi hujan besar akan melanda.
Sedikit menetapkan hati, pemuda itu
melangkah ke jembatan yang mendadak menjadi mengerikan. Sayup-sayup terdengar
suara tangisan Aisyah dan teriakan dari musuh. Pemuda itu menelan ludah.
Jantungnya berdegub kencang. Ya Allah, sejak tadi ia berjanji untuk terus
menjaga gadis iti. Tapi, bagaimana sekarang?
"AISYAH!"
***
Dua orang itu berjalan beriringan.
Sempat terlukis senyum dari pemuda disebelah gadis itu. Pemuda itu merasakan
lega yang luar biasa. Para musuh itu membebaskan Aisyah dengan cuma-Cuma,
alasannya hanya satu, “kami tidak akan menjadikan wanita sebagai kemenangan
yang curang.”
"Aisyah ..." Aisyah hanya
terdiam.
"Bolehkah aku mencintaimu
karena Allah?"
Hening. Tak ada suara yang
bergelombang ditepi udara. Aisyah hanya terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.
"Ibrahim!" Teriakan itu
membungkam selaksa.
"Kakek?" Aisyah memutar
badannya, mengikuti arah suara. "Ibrahin, cucukuu. Ya Allah kau
benar-benar cucuku yang telah hilang! Aisyah, sungguh kau berhasil menemukan
adikmu! Lihat tanda lahir dan kalung yang ia pakai, percis ketika adikmu
diculik!" Mereka menelan ludah pahit.
Samar-samar, air mata dipelupuk Aisyah
meluncur. Ya Allah, jika pemuda itu cucu kakek, berarti pemuda itu juga, adik
Aisyah yang hilang? Sambil menahan perih, gadis itu mengenggalamkan wajahnya
diantara denyut-denyut nadi yang masih tersisa. Ia ingin berkisah pada pemuda
yang kini direngkuh Kakeknya. Ia ingin bercerita tentang segala kehilangannya,
Ya Allah ia sungguh menginginkan hal itu terjadi. Sayang, waktu memang tak bisa
menunggu untuk berhenti.
Dalam segenap sunyi yang tak
terbentuk, gadis itu mengangkat wajah, merasa dalamnya rasa berat yang
membebani hati. Dan mungkin, setelah itu jutaan malaikat kembali menemui bumi.
Tanpa Aisyah sadari, satu detik setelah rasa cintanya harus dimusnahkan, sabuah
peluru menancap tepat menancap di punggung Kakek dan adiknya, Ibrahim,
cintanya. "Ya Allah!! Ada
apa?" Ia berjalan mundur satu langkah. Berhenti. Firasatnya sudah tak baik
lagi.
"Jika Allah tidak menakdirkan
kita untuk saling melengkapi, setidaknya berikan aku keyakinan bahwa kita
pernah saling mencintai." Lirih adik kesayangannya sebelum gelap
menyelubungi asap otak. Aisyah menangis. Benar-benar menangis. Namun,
Sepersekian detik kemudian, seorang musuh menyeringai dibalik tubuhnya. Sebuah
peluru tepat menancap diantara rusuk-rusuknya.
***tamat***
OLEH : PUTRI YULIA ANGRENY
LIA SYLVIA DEWI
BIOLA
(B)iarkan rasa itu benar
menjalar menjadi akar dibalik semua ini. (I)ndahkan sedikit kisah yang mulai
tergores dalam sendu malam bisu seperti (O)ase seakan tercari di padang gersang
melegakan dahaga musyafir kelana sunyi dan (L)antunan serta gesekan senar telah
lama menanti sentuhan lembut dengan rasa yang (A)kan terasa nyata oleh dawai
kerinduan asa yang sedang kau mainkan dengan sangat nyata dalam dunia khayal.
Minggu, 27 September 2015
entahlah :(
Bisikan asamu samar-samar terdengar indah.
Taman langit sedang membiru dalam balutan selimut putihnya awan. Entahlah apa yang menyerang sekeping hati kecil ini, mungkin masih tentang virus merah jambu yang kau suntikkan kepadaku kemarin, atau memang aku merindumu lagi?
Taman langit sedang membiru dalam balutan selimut putihnya awan. Entahlah apa yang menyerang sekeping hati kecil ini, mungkin masih tentang virus merah jambu yang kau suntikkan kepadaku kemarin, atau memang aku merindumu lagi?
Rappang, 25sept15
Sabtu, 26 September 2015
kau! Iya kau!
Kau! Iya kau!
Kau yang melelehkan hati ini
Kau yang taburi bunga di taman hati
Kau yang menyejukkan hati dengan tetesan embun kasihmu
Kau yang mendekap asaku
kau! Iya kau!
Kau yang senyumnya membuatku terlena
Kau yang memelukku dalam doamu
Kau yang menyayangiku sepenuhnya
Kau sandaran hatiku
Kau! Iya kau!
Kau yang ku rindukan
Kau yang ku impikan
Kau yang ku inginkan
Dan kau...,
Rappang, 25sept15
Kau yang melelehkan hati ini
Kau yang taburi bunga di taman hati
Kau yang menyejukkan hati dengan tetesan embun kasihmu
Kau yang mendekap asaku
kau! Iya kau!
Kau yang senyumnya membuatku terlena
Kau yang memelukku dalam doamu
Kau yang menyayangiku sepenuhnya
Kau sandaran hatiku
Kau! Iya kau!
Kau yang ku rindukan
Kau yang ku impikan
Kau yang ku inginkan
Dan kau...,
Rappang, 25sept15
Jalanku
Judul :
jalanku
Pengarang :
Putri Yulia Angreny
Berliku jalanku
Berbatu yang kulalui
Terasa pilu
Terasa perih
Aku lelah menanti yang tak pasti
Aku ingin menghindar
Aku ingin berlari
Aku ingin menjauh
Tapi,
Tak satu pun
Yang membiarkan ku menghindar
Mereka mendekapku dalam naungan kasihnya
Kenyataan pun tak memberi kesempatan untuk berlari
Karena ada keyakinan bahwa semua bisa terlewati
Menjauh? Apa mungkin aku bisa?
Haaaaaahhhhhhh …, semuanya terasa lengkap sekarang
Kebahagian, kesedihan, kebingungan, kelelahan,
kesenangan.
Parepare,26 september 2015
Langganan:
Postingan (Atom)