Judul : Nada Cinta Ghunnah; Meredam Perasaan.
Karya :
Erlangga Dias ( Pinokio Ushang)
Hifdiel Maasi (Aang Irawan)
Assahilah Nurul Mukarromah
Puput Biseru (Putri Yulia Permen Kapas)
Suasana malam sebuah pondok pesantren Darul Mutaallimiin sangat menenangkan sanubari, apalagi saat sedang mengaji akan terlihat santriyin dan santriyat yang sedang membalag kitab-kitabnya dengan khusyuk, ada yang nashrif, qira'atul Quran dan banyak bentuk ibadah lainnya yang tujuannya hanya satu yaitu mengharap keridhoan Allah Tuhan yang satu. Seorang santriyin sedang terpekur sendiri di serambi pondok (kobong kalau orang sunda menyebutnya) merenung seperti serius, padahal dia hanya merenungkan arti namanya sendiri.
“Aiih ..., kata Kang Ustad tadi setiap nama adalah doa, lalu arti nama ane apa ya? masa Abah sama Emak ngasih nama gak bermakna, ah apa ane telpon aja emak ya? sekalian nanyain kabar keluarga." batinnya bertanya.
Dasar wataknya sudah begitu, kalau suatu urusan belum jelas, ia akan mencari sampai terbuka kejelasannya.
Beranjaklah ia ke kamar kobong yang luasnya hanya setengah dari kamar rumahnya, cuma cukup untuk dua orang, semua kamar di pondok sama seperti itu, 'biar masakat' kalau kata Abah sepuh. Teringat juga pas suatu hari ada santri baru yang mengeluh tentang kamarnya yang sempit dan Abah cuma bilang, 'Kita lihat, mana yang lebih sempit, kamarmu atau hatimu? kesempitan dunia timbul karena hati yang sempit Jang (Nak) maka belajarlah qona'ah, menerima dan mensyukuri atas pemberian-Nya' Sampai di kamar, ia langsung sibuk mencari handphonenya di lemari di rak kitab, semuanya dibuka-buka tapi barang yang dicari tak juga ditemukan.
"Aduh, mana Handphone ane ya, apa ane lupa?" tanyanya sendiri.
"Nyari apa antum Ang?" tiba-tiba Pino teman sekamarnya datang baru selesai ngaji Quran.
"Ane lagi cari handphone sob, ane lupa dimana naro nya,"
"Emm, Ini bukan?" tanya Pino tersenyum geli melihat Aang sudah keringetan nyariin handphonenya.
"Alhamdulillah ..., dari mana antum temuin sob?" Aang sumringan hpnya ditemukan.
"Heheh, kang Ustad yang nitipin. Makanya jangan bawa hp kalau ngaji, tertinggal deh di majlis, untung yang nemuin kang Ustad coba kalau yang nemu orang lain, ilang tuh hp antum," kata Pino mengingatkan.
"Aah, gak mungkin ilang kalau tertinggal di majlis, orang pada baek juga, BTW syukron nih sob."
"Afwaan, darimana antum tahu orang-orang pada baek hatinya, hati orang itu beda-beda sob, mungkin aja asalnya baik pas nemu kesempatan maksiat langsung sikat,"
"Bener juga, bisa jadi tempat yang baik orangnya jelek, atau sebaliknya tempat jelek kumuh orangnya baik,"
"Nah ntu tahu, ukuran baik buruk orang gak ditentuin tempat dhohir, tapi yang nentuin ini..., " kata Pino sambil memegang dada Aang
"Tempat bathin, dimana niat dan ikhlas bermula," sambung Pino tersenyum bijak.
"Widiih, mantep ni mama Pino, jleb banget kalamnya, heheh." Aang terkehkeh kagum
"Tapi jangan lama dong ngelus dadanya, emang ane santri apaan, hahah." Aang terkekeh geli melihat ekspresi jijik Pino.
"Idih, amiiit ..., siapa yang ngelus, elus aja noh pake kerak." Pino kesal karena mulut usil Aang
"Kahkahkah udah mandi sono, mumpung belum isya, ane mau nelpon Emak dulu," suruh Aang mendorong tubuh Pino keluar kamar.
"Udahh ..., jangan dorong-dorong, entar dikira KDRT lagi, hahah." Pino tertawa berhasil membalas mulut usil Aang yang kini mencibir jijik.
Sementara di pondok santriyat terdengar keramaian yang tidak biasanya. Semua santriyat di barisan kamar Az-Zahriyah keluar dari kamarnya kecuali Anggie yang sedang sibuk menggarap tugas kuliahnya. Ternyata Ibu pengasuh pondok menuju ke kamar Fitri dengan membawa seseorang, sepertinya dia santriyat baru di pondok ini. Benar saja, Fitri disuruh Ibu pengasuh supaya dia membagi kamarnya dengan anak baru tersebut.
"Kenalkan, saya Fitri. Nama kamu siapa?" langsung saja Fitri memperkenalkan dirinya.
"Saya Frina Safa, panggil Safa saja," jawabnya dengan santun.
"Yah udah ayo masuk Fa!" ajak Fitri.
"Eits tunggu Fit, saya ngikut kamu ke kamar yah? kan saya juga pengen kenalan," tiba-tiba seorang santriyat mengagetkan Fitri.
"Eh, kamu toh Assahilah. Ya udah ayo," sahut Fitri Mereka bertiga pun masuk kekamar Fitri dan Safa.
Dalam satu waktu di tempat yang berbeda, tepatnya di asrama santriyat. Malam yang khas pondok pesantren kini mulai begitu terasa untuk Safa. Meski angin yang berhembus pelan mulai menyeka wajah-wajah para pencari ilmu ini. Safa sedang merapikan barang-barang yang dibawanya maklum Safa adalah santriyat baru di pondok pesantren ini. Kebetulan Safa sekamar dengan Fitri.
"Ayo sini Fa duduk disini dulu, nanti aku bantu kamu beresin barang-barang kamu." Fitri menyilahkan Safa duduk didipannya.
"Oh iyah, aku belum kenalan sama kamu. Aku Assahilah, kamu siapa?"
"Dia Safa Sa,"
"Perasaan tadi aku tanyanya sama Safa, kenapa jadi kamu yg jawab Fit,"
"Biarin, wee."
"Malah ngeledek lagi,"
"Sudah-sudah! kenapa kalian jadi begini?" Safa menenangkan mereka berdua.
"Oh iyah Fa, kamu disini mau mondok aja atau disambi apa?" tanya Assahilah penasaran.
"Urgh …, ada apa sih ini ribut-ribut! aku ngga konsen nih jadinya," tiba-tiba Anggie datang dengan marah-marah karena merasa terganggu.
"Kamu dateng-dateng jangan marah-marah gitu dong Nggie, lihat nih ada santriyat baru," ucap Fitri sambil mendongakkan dagu kearah Safa.
"Oh ...,jadi ada santriyat baru toh? hehe maaf deh kalau gitu," ucap Anggie cengar-cengir malu.
"Makanya jangan asal marah kalo belum tahu," sahut Assahilah.
"Oke dilanjut aja Fa pertanyaan yang tadi aku tanya," sambung Assahilah.
"Saya disini hanya ingin memperdalam agama saja, tidak dengan kegiatan di luar," jawab Safa
"Iyah bener Fa, daripada kayak saya nanti pusing," sela Anggie.
"Perasaan tadi ada yang marah-marah deh kita ngobrol, tapi siapa yah?" ejek Assahilah sambil ketawa-ketiwi.
"Yah udah sih ngga papa aku ikut nimbrung, biar tambah rame,” jawab Anggie. Mereka tertawa bersama ketika Anggie memberi jawaban yang begitu aneh bagi seorang Anggie.
Malam kian larut, suara-suara jangkrik mulai terdengar nyaring dalam kamar para santriyin. Meski begitu, Aang masih bergelut dengan tombol-tombol hp miliknya.
Aang pun mulai membuka kunci hpnya, terdengar tombol- tombol berkrek krek saat mencari kontak Emaknya seperti ranting patah, maklum hpnya hp jadul. Setelah nama yang dicari ketemu dan bersiap men dial.
"Kepada Neng Frina Safa, diharap menghadap kerumah Abah Sepuh," Suara Kang ustad melalui pengeras suara memanggil nama santriyat.
"Frina Safa..., " gumam Aang membatalkan niat memanggil Emaknya.