Jumat, 28 Agustus 2015

KISAH SI TULI

OLEH : PUTRI YULIA ANGRENY

Aku menikmati dunia  dengan
Kesunyian
Aku mendengar
tangisanmu meski kau
Tak bersuara
Aku menikmati
kisahmu meski kau
Tak bercerita
Aku menikmati lantunan
lagumu meski kau tak bernyanyi

Aku menikmati duniaku
Meski dalam kesunyian
Yang semua orang tak bisa
Menikmati walaupun mereka
Mampu menikmati lebih daripada yang aku nikmati.
Aku menikmati hidupku meski
Sang pencipta tidak menghidangkannya
langsung untukku..

Karena aku mendengar kesunyianku sendiri.


RAPPANG, 31 JULI 2015

Rabu, 26 Agustus 2015

Merdeka?
Karya  : Putri Yulia Angreny
Iya…merdeka
Itu dulu
Ketika tak ada para koruptor
Ketika tak ada para perampokKetika tak ada para pencopetKetika tak ada Si penyongokTak ada Si pemerasIya…merdeka?
Itu dulu
Ketika Rakyat benar-benar merdeka
Ketika taka da kekerasan
Iya…merdeka!
Itu sih dulu!
Ketika tak ada narkoba
Tak ada sabu
Tak ada ganja
Itu merdeka!
Merdeka? katanya
Tapi penjajahan sepenuhnya usai
Generasi penerus bangsa? katanya
Tapi kok? lebih pantas
Di sebutnya generasi penerus narkoba
Rakyat merdeka?
Masa sih?
Bukannya rakyat sekarang di cekik kemiskinan?
Ketika banyak bantuan untuk rakyat!
Pejabat merdeka?
Iya… merdeka koruptornya
Generasi muda merdeka?
Iya… merdeka begalnya
Mereka yang merdeka
Adalah mereka yang lepas dari
Belenggu kebodohan
Lepas dari cekikan kekerasan
Bebas dari
Korupsi
Suap
Dan pemerasan
Aku masih bertanya tentang kemerdekaan.
Rappang, 13 Agustus 2015

Bulan Jingga


Bulan Jingga 
karya : Putri Yulia Angreny
Bulan jingga
Merindu bintang dalam bingkisan
langit hitam pekat merana
Dilindungi lingkaran awan abu
diselimuti hembusan angin
Bulan jingga
Merona dalam gelap malam
tanpa bintang
menyapa ruang dalam
lingkaran bola bumi

Rappang, 02 Agustus 2015

adzan dan senja itu

Tema : Religi
judul : adzan dan senja itu
karya : Permen Kapas
Bergema kumandang Adzan
Terasa bagaikan angin berhembus lembut
Menembus rongga pendengaran
Mengalir dalam darah
Menuju lautan hati
Tatkala mentari kembali
Keperaduannya yang tinggi di singgasana
Kembali tergambar
Awan putih merona jingga
Bak permen kapas melayang
Dilangit
Inginku kesana berdiri
Bersama awan dan
Membawaku terbang
Menuju Arsy Sang Khalik
Sidrap, 14 Agustus 2015

FM. Gara-gara Cinta Bersemi Disandungan Pertama

Gara-gara Cinta Bersemi Disandungan Pertama

Karya : Permen kapas

“Aduh! Sakit tau mba Fit,” keluh Frina.

“Yowes, sorry Na! Abisnya kamu tuh sibuk bener, baca
apaan sih?” tanya Fitri.

Frina langsung menyembunyikan buku "Cinta Bersemi
Disandungan Pertama."

“Ngak papa kok mbak,” kata Frina.

“Sini mba liat!” ujar Fitri.

“Ngak ada papa loh mbak,” balas Frina.

“Yaudah kalau kamu gk mau, aku aduin ke mas Panji, biar
kamu tuh dimarahin baca buku kok cinta-cintaan.” Fitri kemudian berlari sambil manggil Panji, "Mas Panji!”
teriak Fitri.

“Aduh mba fitri usil banget sih, bisa kena marah beneran
nih ma mas Panji kalau ketahuan Baca buku tentang
cinta," gumam Frina.

Frina kembali mengambil bukunya yang disembunyikan
dibawah bantalnya, dan berlari menuju lemari pakaian. 

“Simpen disini aja, mas Panji kan ngak mungkin bongkar
lemari pakaian Frina," gumamnya lagi.

Sesaat kemudian Fitri dan Panji menghampiri kamar Frina
Sambil mendorong Panji, “Lihat tuh mas! Frina masa baca
bukunya tentang cinta'an, kan gak boleh." Kata Fitri.

“Aduhh! Fit, jangan dorong-dorong deh! Frina Bener yang dibilang mba mu ini, Kamu baca buku apaan emangnya?" tanya Panji.

“Ngak kok mas!” Frina membela diri.

“Coba sini mas Panji mau lihat bukunya!” kata Panji.

“Cepetan kasih mas Panji bukunya!” sambung Fitri.

Frina mengambil bukunya yang disembunyikan di dalam
lemari pakaiannya.

“Ini mas bukunya, tapi jangan diapa-apain! soalnya itu
bukunya Anggi, Frina cuman minjem doang,” kata Frina.

“Cinta Bersemi Disandungan Pertama.” Panji membaca
cover buku tersebut.

“Wahh, ini mah penulisnya temennya mas Panji, namaya
Pino, hahahaha ini bukunya baca lagi,” kata Panji.

“Lahh kok mas?” Fitri bingung, Frina sumbringan

Senja dan sedikit Goresan usangku

Senja dan sedikit Goresan usangku
oleh : Putri Yulia Angreny (permen kapas)
Memori hujan tergambar lagi
Teringat ketika kita bergandengan tangan
Menuju tepi danau kampus merah;
Aku pandangi wajahmu
Yang kala itu sedang
menikmati hidangan
secangkir kopi hitam dan
Sepiring Pisang coklat keju;
Aroma hujan, membuyarkan
lamunanku
hahhhh.. ternyata itu hanya sebuah
ingatan yang harus kulupakan;
Diteras pondok bambu itu
Senja menyapa orange hatiku.
Sidrap, 14 Agustus 2015
Masih tentang Awan
Oleh : permen kapas
Sang surya menyapa pagiku
Mengintip di balik jendela
Membiaskan cahaya yang indah
Awan putih berarak
Seperti permen kapas di singgasana
Langit biru
Mentari bersinar
Menembus celah dibalik
Awan
Bagaikan air terjun
dari surga yang jatuh ke bumi
parepare, 22 Agustus 2015