Andai ku tahu alamatmu sekarang mungkin sudah puluhan ribu kertas berisi rindu melayang ke kotak surat depan rumahmu saat ini.
Apa kabar kamu? masih ingat denganku? perempuan berkacamata yang pernah kau lukis di kanfas kehidupanmu? setiap kali ku tanyakan kabarmu kau tak pernah menjawab. kenapa? kamu sakit gigi? ohh tidak yah... lalu?
Apa kamu lupa denganku? perempuan berkacamata yang selalu memanggilmu "Dii".
Sepertinya kau tak lupa? hanya saja kau enggan menyapaku meski lewat senyum tipis itu.
Kini kita tak saling menyapa. membiarkan biasa saja menjadi penyelamat hubungan ini. aku tak butuh tentang apa yang menjadi "status". yang aku ingin hanya mengetahui kabarmu di tanah lahirmu.
Apa kita bisa bertemu sekali lagi setelah pertemuan tanpa pembicaraan itu? setelah tatap yang mengartikan semuanya? setelah senyum yang menjadi pengingat bahwa aku pernah menemui bukan dalam mimpiku saja?
Sekali lagi, bolehkah aku memahat wajahmu yang penuh jingga itu di pelupuk mataku?
Aku ingin tertawa bersamamu seperti katamu di sela deruh ombak kemarin ketika senja itu menyapa dua bola matamu.
Aku ingin menangis di bahumu, menjadikan air mataku bermukim di dasar hatimu yang menjadikannya sejuk.
Aku juga ingin menggenggam tangan mu yang pernah melukis wajahku di kehidupanmu!
Tanganmu dan tanganku mungkin tak pernah bisa saling menggenggam. Tapi... aku berharap tangan seorang Pelukis menggenggam kuat tangan seorang penulis,
Aku masih menungggu hujan yang mengguyur senja menjadikanya beraroma.
-ini edisi nulis lagi bete. sumpah-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar