Minggu, 13 September 2015

part 2, Nada Cinta Ghunnah; Meredam Perasaan

Nada Cinta Ghunnah; Meredam Perasaan, Part2

oleh :
Erlangga Dias ( Pinokio Ushang)
Hifdiel Maasi (Aang Irawan)
Assahilah Nurul Mukarromah
Puput Biseru (Putri Yulia Permen Kapas)




Pagi mulai menyapa, kokok ayam dan sinar mentari begitu terasa, sebagian santriyat sudah melakukan aktivitasnya masing-masing, termasuk Anggie yang masih saja bergelut dengan tugasnya yang ia kerjakan sehabis sholat subuh tadi. Tak terasa waktu sudah sangat molor, Anggie masih keukeuh untuk menyelesaikan tugasnya hari ini juga.

“Walahhh …, bisa kena lemparan spidol nih kayaknya kalau nggak selesai,” gumamnya sendiri.

Tiba-tiba fitri dan Assa datang ke kamar Anggie,

“lahhh …, Ngiie, kok belum ke kampus, entar kamu telat lohh,” kata Fitri.

“Iyaa Nggie …, baru kali ini aku lihat kamu telat ke kampus, emang kenapa? Ada masalah kamu?” tanya Assa kepada Anggie.

“Heemm …, nggak papa Sa, Fit bisa bantu aku bikin sampul ini nggak? Aku mau mandi dulu, biar ngaak telat.” Anggie minta tolong ke Fitri.

“Sini coba aku lihat Nggie, mungkin bisa bantu,” sambil menarik tumpukan kertas dari meja belajar Anggie.

“Makasih yah Fit, Sa , aku mau mandi dulu.” Anggie setengah berlari mengambil perlengkapan mandinya menuju kamar mandi sambil menunggu Anggie selesai mandi. Fitri dan Assa membantu Anggie menyelesaikan tugas kampusnya.

Safa tiba-tiba muncul dibalik pintu kamar Anggie.

“Fit, Sa, kalian sedang apa di sini?” tanya Safa ke Fitri dan Assa.

"Ini Fa, kita lagi bantuin Anggie bikin sampul buat tugasnya," sahut Fitri sambil terus mengotak-atik hasil kerjanya itu.

"Boleh ikut bantu?" Safa menawarkan diri.

"Nggak usah Fa, ini juga udah selesai tinggal dirapikan sedikit," tolak Assa.

"Kalo sudah selesai nanti sekalian minta tolong diberesin yah?" teriak Anggie sembari menghadap cermin merapikan kerudung yang akan ia pakai ke kampus.

"Siap Anggie yang cantik," ucap Fitri dengan nada menggoda Anggie. Setelah dirasa cukup untuk ke kampus, Anggie langsung bergegas pamit.

"Aku berangkat dulu yah Fit, Sa, Fa. Makasih semuanya," ucap Anggie sambil mengambil tas yang sudah siap untuk dibawanya.

"Sama-sama Nggie," sahut mereka bertiga bersamaan.

"Assalamu'alaikum." Anggie setengah berlari keluar dari kamarnya.

"Hati-hati Nggie," teriak Safa.

"Siap!" sahut Anggie dari kejauhan.

          Pagi menampakkan senyum indahnya, di balik awan mentari membiaskan pantulan sinarnya di lautan lepas, tembok-tembok yang tidak terlalu tinggi menjadi pembatas antara pantai dan jalan aspal, sebisa mungkin pemerintah kota ini menata kota namun tak meninggalkan ciri khasnya yakni pesisir. Sementara di kampus, terdapat beberapa mahasiswa berlarian karna takut telat sampai di kelas.

"Bluk...!" Terdengar buku-buku terjatuh dari pegangan seorang mahasiswa. Tak disangka, ada seorang wanita tepat dibelakangnya. "Bruk...!" Suara benda berat terjatuh.

"Aduh ..., kamu itu kalo jalan yang bener dong! kenapa tiba-tiba berhenti di jalan sih!" bentak wanita yang menabrak seorang pria yang berhenti karna bukunya terjatuh.

"Eh, kamu nggak ngerasa bersalah banget sih? jelas-jelas kamu yang nabrak aku!" sahut cowok itu. Mereka berdua berusaha berdiri dari jatuhnya dan saling membersihkan baju yang kena debu di jalan kampus. Setelah mereka saling bertatapan, suasana menjadi berubah.

"Iya deh iya aku yang salah. Aku takut telat soalnya," terang wanita itu.

"Ya udah nggak papa, tadi bukuku jatuh, jadi aku berhenti untuk mengambilnya. Oh iyah, aku Panji dari fakultas MIPA. Kamu siapa?" ucap Panji sambil mengulurkan tangan.

"Oh, aku Putri dari fakultas Ilmu Pendidikan," jawabnya membalas uluran tangan Panji.

"Aduh!" teriak Putri.

"Maaf maaf, aku nggak sengaja. Aku buru-buru takut telat," ucap Anggie yang tiba-tiba menabrak jabatan tangan antara Panji dan Putri.

"Maaf yah!" sambung Anggie lagi sambil ngos-ngosan.

"Iyah tenang aja, nggak papa kok," sahut Putri.

"Ayo buruan kita hampir telat," ucap Anggie mengingatkan.

"Iyah ayo!" sahut Putri.

Ini adalah pertanda bahwa Anggie dan Putri akan menjadi sahabat yang baik nantinya, sebelum kejadian ini mereka belum pernah berkenalan, hanya pernah melihat satu sama lain dalam kelas. Sambil berlari menuju ruangan perkuliahan Putri menyempatkan berkenalan dengan Anggie.

“Huuufff …, capek yah, lari-lari mulu.” Putri membuka pembicaraan.

“Iya nih, capek,” sahut Anggie.

“Oh yah, aku Putri tapi biasa di panggil Puput, kamu siapa?” sambil mengulurkan tangannya ke Anggie.

“Aku Anggie, maaf yah tadi langsung aku tarik, soalnya aku pernah lihat kamu di kelas,” kata Anggie.

“Iya, nggak papa kok!” sambil tersenyum.

Anggie dan Putri berjalan cepat menuju ruang kuliah, mereka meninggalkan Panji sendiri menyisakan sejuta pertanyaan dalam benaknya. Panji hanya mematung melihat ke arah mereka berjalan tadi.
***

  Sepeti biasa di pondok pesantren aktivitas juga sudah berjalan seirama dengan alunan waktu yang terus berdetak seperti jantung dan berdenyut seperti nadi. Seorang pemuda masih saja bergelut dengan sisa-sia Tanya yang masih menghantui benaknya.

"Aish … ini gila, hanya sebuah nama tapi mampu membatalkan rencanaku." Aang menggerutu aneh baru pertama mendengar nama santriyat hatinya serasa tergetar bahkan mampu membelokan niatnya untuk menanyakan makna namanya sendiri hanya karena sebuah nama "Nama itu ibarat mani' yang menggugurkan muqtadi' kejadian ini mungkin termasuk qoidah Idajtamaal mani' walmuqtadi, gholabal mani' alal muqtadi' heheh," bathinnya terkehkeh, menurutnya tujuan menelpon ibunya adalah muqtadi' dan nama itu itu adalah mani' yang menggagalkan rencananya.

"Astagfirulloh aladziim, ini hati kenapa ya?" Aang bertanya sendiri merasa tidak seperti biasanya.

"Wah ini gak boleh dibiarkan, ane harus tahu penyebabnya," tekadnya, karena bagi Aang sesuatu yang datang menyalahi asal maka harus diketahui sebab dan ilatnya, seperti isim mabni, kenapa harus mabni padahal asalnya isim itu mu'rob.

Setelah Aang tertidur Pino datang baru selesai mandi, ia hanya menatap Aang sejenak sembari tersenyum lucu melihat Aang tidur meringkuk di balik sarung seperti kucing kedinginan. Lalu ia mengganti baju, sarung dan kopiahnya. Sajadah ia hamparkan menghadap arah yang diridhai Alloh sebagai kiblat shalat, yaitu Baitulloh. Ada orang beranggapan bahwa islam menyembah ka'bah, mereka tidak tahu bahwa islam hanya menyembah
Allah, ka'bah hanya patokan arah yang diridhoi Allah saat shalat. Selesai shalat hajat Pino menghaturkan munajat pada Allah, salah satu munajatnya :

"Ya Allah yang menguasai hati, kuasailah hatiku dan serahkan pada Peri Biru yang akan kau jadikan ibu dari anak-anaku kelak, dengan ridho dan barokah dari-Mu Ya Rohmaan."

Malam kian larut, menyelimuti tubuh bani' Adam yang terlelap kedinginan karena musim kemarau. Para santri Darul Mutaallimiin tidak ada yang keluar, pintu gerbang ditutup, terlihat seperti penjara suci bagi yang mendekatkan hatinya pada Illahii, sampai tiba di ¼ malam …

"Uhhh ,, ya Allah udah jam tiga, qiyamul lail dulu ah," kata Safa setelah mengucap doa bangun tidur sambil menatap jam dinding di pojok kamar.
Namun ia takut ke kamar mandi sendiri, juga segan kalau membangunkan Fitri yang masih tidur pulas. Akhirnya dengan tekad Tiada yang perlu ditakuti selain makar Allah, ia keluar juga. Safa menuruni tangga dan berjalan sebentar untuk sampai di kamar mandi. Namun saat akan masuk, seseorang keluar. Tak berapa lama.

"Aih,"

"Aduh," terdengar dua suara berbeda kaget kesakitan.

"Aina ainuka?" kata Safa kesal.

"Ha …," baru orang itu akan menjawab pertanyaan frina tenggorokkannya tercekat kering "maa roaitu hurron 'in?" bathinnya bertanya kagum melihat mata jelita. Safa pun hatinya tercekat melihat orang dihadapannya, dengan wajah bersih dan masih tampak bulir-bulir air wdlu menempel di wajah yang tersorot lampu pondok itu.

"Masya Allah ...," Tanpa sadar hatinya bergumam. Saat kejadian yang kayak sinetron pangkat lebay akut itu berlangsung.

"Ciee, Gus Aang, sampe keluar gitu matanya, lihat wajah Safa, hahaha." Assa datang langsung maen jebred aja sama orang di hadapan safa bersama Fitri dan Anggie.

"Iya Sa, ilernya sampe muncrat, haha," timpal Anggie.

"Udah Gie, Sa …, wajahnya udah kaya minta ditabok tuh, haha." Fitri pun yang biasa ramah lembut tak kuasa menahan tawa melihat wajah Aang yang memerah.

Aang hanya mendengus malu, masuk lagi ke kamar mandi mengambil wudhu. Kalau air di kamar mandi santriyin tidak macet mungkin kejadian ini gak akan terjadi sesal Aang kesal karena malu ditertawakan. Setelah wudhu Aang keluar, saat melewati Safa yang sedang menunduk di tempat agak jauh dari kamar mandi ia berhenti dan bebisik "Kamu sudah dua kali membatalkanku," bisiknya disertai dengusan.
Safa hanya terbengong aneh .

"Dua kali? perasaan baru tadi ketemunya juga, dasar aneh." Safa mengangkat bahu tanda 'sebodo teuing' lalu masuk ke kamar mandi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar